RADAR JOGJA – Pemkab Gunungkidul mulai melakukan persiapan droping air bersih. Anggaran yang disiapkan untuk musim kemarau tahun ini sekitar Rp 700 juta untuk memenuhi kebutuhan air di sembilan kapanewon.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Purwono mengaku, anggaran tersebut masih sama dengan tahun sebelumnya. Dengan kapanewon yang rutin meminta bantuan adalah Girisubo, Rongkop, Tepus, Tanjungsari, Saptosari, Panggang, Purwosari, Paliyan, dan Semin.
Sembilan wilayah target droping air, lanjutnya, mengacu pada hasil pemetaan wilayah zona rawan terdampak kekeringan pada musim kemarau. “Perkiraan bulan Juni mulai dilakukan droping air,” ujarnya kemarin (18/5).
Hanya saja, dia tidak bisa memungkiri jika nantinya data permintaan droping air bisa bertambah. Khususnya pada saat memasuki puncak musim kemarau. “Karena itu bantuan droping air dari pemerintah diharapkan dapat meringankan beban masyarakat,” harap mantan Panewu Purwosari itu.
Sementara itu, warga Kapanwon Girisubo Andi mengakui, wilayahnya sering menjadi langganan krisis air saat memasuki musim kemarau. Saat ini, ketersediaan air masih mencukupi karena adanya hujan meskipun satu sampai dua kali. “Bak penampungan terisi,” kata Andi.
Ditanya mengenai harga air per tangki dari swasta, Andi menyebut bervariasi. Disesuaikan dengan jarak tempuhnya. Mulai Rp 150 ribu untuk 5.000 liter. Oleh karena itu, tidak jarang warga masih memanfaatkan sisa sumber air yang ada.
Terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Gunungkidul Sumadi mengatakan, tahun ini disiapkan 400 tangki air. Pemetaan wilayah rawan kekeringan dilakukan Mei, dan droping air akan dimulai Juni. “Anggaran pastinya ada di DPA,” kata Sumadi.
Berdasarkan prakiraan cuaca, Gunungkidul memasuki kondisi kekeringan pada Juni. Kemudian puncak musim kemarau, diprediksi pada Juli dan Agustus. (gun/eno)

Jogja Utama