RADAR JOGJA

Penyandang disabilitas menjadi salah satu sasaran penerima vaksin booster di DIJ. Apalagi capaian vaksinasi booster di DIJ belum setinggi vaksin dosis pertama maupun kedua.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ Pembajun Setyaningastutie mengatakan, data per 20 Maret 2022, capaian vaksinasi di DIJ untuk dosis pertama sebesar 105.98 persen dan dosis kedua mencapai 98,25 persen. “Saat ini, kami sedang mengejar dan berfokus untuk vaksinasi booster,” tuturnya, dalam sesi berbagi pengetahuan komunikasi risiko bagi penyandang disabilitas, yang digelar secara daring, Selasa (22/3).

Ia turut pula mengajak kelompok disabilitas berpartisipasi dalam vaksinasi booster. Ia mengungkapkan, kelompok disabilitas akan diperlakukan khusus supaya segera dapat mendapatkan layanan vaksinasi tersebut. Selain itu, ia menilai kerjasama dengan Australia Indonesia untuk Ketahanan Kesehatan (AIHSP), khususnya untuk memberikan pemahaman pentingnya komunikasi risiko. Di antaranya dapat memberikan pemahaman bagi kelompok disabilitas. “Agar mendapat informasi yang lebih jelas dan terhindar dari hoaks terkait Covid-19,” ungkapnya.

Mantan Dirut RSJ Grhsia itu menyebut, kondisi pandemi di DIJ masih fluktuatif. Menurutnya, vaksinasi booster dan pelaksanaan protokol kesehatan 5M harus dilakukan sehingga dapat memutus rantai penularan Covid-19. “Dinas Kesehatan DIJ juga siap memberikan pelayanan vaksin booster kepada teman-teman disabilitas,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan DIJ Endang Pamungkasiwi menambahkan, berbagai jenis vaksin yang tersedia sudah dipastikan keamanannya. Ia juga mendorong teman-teman dari kelompok disabilitas untuk ikut aktif menyukseskan vaksinasi. “Kami siap memberikan informasi yang valid dan tepat, serta melayani dengan baik, sesuai dengan kebutuhan teman-teman disabilitas,” tambahnya.

Sementara itu, Spesialis Komunikasi Risiko Program AIHSP Citra Indah Lestari mengatakan, komunikasi risiko adalah pertukaran informasi, data, dan saran dari suatu pihak kepada masyarakat yang menghadapi risiko. Komunikasi risiko penting untuk dilakukan agar tahu setiap risiko atas langkah atau tindakan yang diambil. “Komunikasi risiko merupakan tindakan yang harus terus menerus dilakukan sepanjang masa,” tuturnya.

Citra mengungkapkan, persepsi risiko setiap orang itu berbeda-beda. Misalnya terkait informasi vaksin yang aman bagi kelompok disabilitas. Ia menilai informasi yang beredar terkait Covid-19 bagi disabilitas seringkali belum memberikan kejelasan. “Apakah Covid-19 berbahaya bagi kelompok disabilitas? Mana vaksin yang aman untuk kelompok disabilitas? Kalau vaksin apa manfaatnya? Kalau tidak vaksin apa bahayanya,” tambahnya.

Konsultan Komunikasi Risiko AIHSP/ID COMM Sari Soegondo, juga menekankan pada pentingnya informasi yang berwawasan komunikasi risiko. Sari mengajak para produsen dan konsumen informasi dapat lebih bijaksana, teliti dan kritis, ketika memproduksi atau membaca suatu konten atau informasi berita. Sehingga dapat memberikan informasi opsi dan wawasan kemungkinan risiko kesehatan dan skenario kesehatan yang perlu dipahami oleh pembaca, termasuk kelompok disabilitas. (cr5/bah)

Jogja Utama