RADAR JOGJA – Napasnya sudah tak panjang, pun pandangannya terbatas. Di usia senjanya, Prapto Prayitno tetap berkarya demi melestarikan budaya.

Melempar senyum, gigi pria kelahiran 1936 itu ternyata sudah ompong. Tapi, tangannya masih cekatan mencengkeram tali yang mengikat dua sapi jantan peranakan ongole (PO). Menahan, agar sapi-sapi itu tidak lari saat akan dilepas dari gerobak miliknya. Di atas gerobak, tampak dua anak kecil yang memperhatikan. Mereka ternyata cucu dari si montir gerobak sapi, Prapto Prayitno.
Setelah memastikan sapi terikat dengan aman di pohon pisang, kakek yang akrab disapa Mbah Prapto ini bergegas mengambil perkakas. Satu buah tatah dan palu mantap digenggamnya. Kemudian melirik bongkahan kayu yang disandarkan di bawah pohon mangga pelataran rumahnya, Padukuhan Karangasem RT 02, Gilangharjo, Pandak, Bantul.
Mbah Prapto kemudian menyampirkan caping ke kepala. Guna tabir melawan surya di tengah hari. Saat langkahnya sampai pada bongkahan pola gerobak, dia mulai menyodorkan mata tatah yang dipegang. Dipukulnya palu pada tatah berkali-kali kendati sesekali berhenti. “Saya usaha bikin gerobak sejak tahun 1950,” ungkapnya, dalam sela napas sebelum kembali menatah.
Ayah tiga anak ini berbakat membuat gerobak sapi berkat ilmu yang diwariskan ayahnya, Karto Sunjoyo. Untuk diketahui, Eyang Karto sudah jadi pembuat gerobak sapi sejak 1920. Namun, dari saudara-saudaranya, hanya Mbah Prapto yang andal. Kini di kampungnya, tinggal Mbah Prapto seorang diri, yang masih bertahan jadi montir gerobak sapi. “Teseh seneng kalih laku (masih suka berkarya dan masih diminati, Red),” jawabnya kemudian tertawa, ketika ditanya alasannya masih bertahan jadi montir gerobak sapi.
Dalam membuat satu gerobak sapi, Mbah Prapto membutuhkan waktu 15 hari. kalau sudah jadi, satu gerobak dihargai Rp 8 juta sampai Rp 15 juta. Variasi harga, menyesuaikan material kayu yang digunakan. “Paling bagus ya dari kayu jati itu, harganya Rp 15 juta,” cetusnya.
Sadar usianya yang sudah senja, Mbah Prapto kini tidak membuat gerobak seorang diri. Tapi dibantu putra sulungnya, Riyanto. Sekaligus, jadi sarana dia mewariskan ilmu dan teknik membuat serta memperbaiki gerobak sapi. “Lah wong tuo e, nggih rekoso wesan (sudah tua, ya sudah merasa kesusahan, Red),” guyonnya.
Riyanto mengaku ingin melestarikan budaya. Pria 48 tahun ini tak ingin gerobak sapi sampai punah. Lantaran gerobak sapi menyimpan cerita sejarah bagi kampungnya. Oleh sebab itu, dia mendedikasikan diri sebagai pembuat gerobak sapi. “Jadi saya generasi ketiga,” sebutnya.
Terkait kendala, sejauh ini, Riyanto dan Mbah Prapto merasa kesulitan membuat aksesoris gerobak. Semisal pembuat bagian gribik, tepong, gloso, dan payon. Sebab mereka merasa tidak mampu menganyam dan melukis. “Itu kami harus pesan dari perajin,” tandasnya. (laz)

Jogja Utama