RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menilai, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XVII mempertegas karakter DIJ sebagai kota yang multi culture. Di mana positive cultural set menjadi modal sosial bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang inklusif, harmonis, dan sejahtera.
PBTY sebagai rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek, menjadi pembuka periode masa yang terwakili dengan simbol macan air. Yang menyimbolkan nilai-nilai perubahan.

Menurut HB X, macan mewakili nilai-nilai keberanian dan kekuatan. Sementara air mewakili unsur jernih pikir, kepekaan, kreativitas, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan. “Tentu kita semua paham, bahwasanya perubahan adalah perihal yang sejati dan hakiki,” ucapnya kemarin (11/2).

Tentu dengan kondisi pandemi saat ini, menuntut agar manusia tetap jernih dalam menghadapi berbagai perubahan yang sedang dan akan terjadi. Dibutuhkan kearifan dan konstruksi pemikiran positif dalam menyikapi perubahan. Sehingga memberikan manfaat bagi manusia. “Memang perubahan tidak serta merta mulus dan mudah, selaras dengan pepatah kesandhung ing rata, kebenthus ing tawang,” ucapnya.

Oleh karena itu, sudah menjadi tugas bersama agar dapat melihat dan menghadapi krisis secara optimis. Sehingga memunculkan berbagai peluang baru. Dia percaya warga Tionghoa dan Jogja dapat berperan aktif dalam menghadapi krisis bersama-sama. “Dan bersama-sama memulihkan sektor sosial kemasyarakatan dan ekonomi,” jelasnya.

Ketua Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC) Tandean Harry Setio mengatakan, PBTY 2022 bertajuk ‘Lestari Budayaku, Mewangi Negeriku’ merupakan wujud nyata eksistensi budaya Tionghoa di DIJ. Dilaksanakan secara virtual mulai 11-15 Februari.

Dengan diselenggarakan PBTY XVII, lanjutnya, menjadi upaya untuk mengingat identitas bangsa Indonesia, persatuan yang teguh, keberagaman unik, dan persaudaraan yang kuat. Sebagai landasan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. “Kami percaya bahwa apabila kita dapat mempertahankan budaya yang ada, maka niscaya negeri kita tidak mudah dipecah belah dan diporakporandakan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana PBTY Antonius Simon menuturkan, pelaksanaan kegiatan di masa pandemi Covid-19 menggunakan protokol kesehatan sesuai dengan arahan dari pemerintah pusat. Seluruh panitia yang terlibat, sudah melaksanakan tes Covid-19 dan dinyatakan negatif. “Seluruh rangkaian acara disesuaikan oleh panitia dengan kondisi yang ada,” ujarnya.

Dia berharap, acara PBTY 2022 dapat memberikan kontribusi positif yang besar bagi masyarakat dalam hal hiburan, pengenalan budaya, serta pendapatan daerah. Meski demikian, pemilihan Koko Cici Jogja 2022 yang merupakan rangkaian kegiatan PBTY tahun ini harus diundur. Karena kondisi yang tidak memungkinkan dengan adanya kebijakan pembatasan kegiatan dari pemerintah pusat. “Karena kondisi yang tidak memungkinkan dilaksanakan pada ruang final di ruang publik, jadwal dikonfirmasi segera,” jelasnya. (cr4/eno)

Jogja Utama