RADAR JOGJA – Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, dengan kondisi sebelum terjadi lonjakan kasus ini, rata-rata kasus dalam sehari hanya berkisar di bawah 10 atau 15 kasus. Per kemarin (10/2), kasus baru terkonfirmasi 149 kasus.

Dengan total kasus aktif mencapai 595. Dibanding Rabu (9/2), total kasus aktif 461 kasus. “Peningkatan kasus memang tajam, agak tinggi sampai 70 kali. Makanya posko PPKM mikro ini penting untuk kembali kami aktifkan,” katanya kemarin (10/2).

HP menjelaskan, saat ini terjadi pergeseran penularan di Kota Jogja. Semula penyumbang kasus dari pelaku perjalanan, saat ini berubah di lingkungan keluarga. Posko PPKM mikro praktis diaktifkan kembali untuk meminimalisasi kegiatan ekonomi sosial masyarakat di masing-masing wilayah. “Karena kalau keluarga satu kena, pasti tertular semua. Ini harus perlu upaya-upaya pengawasan prokes sampai ke tingkat bawah,” ujarnya.

Posko PPKM mikro kembali bertugas untuk membatasi kegiatan penumpulan orang dan melakukan pembatasan jumlah terkait kegiatan yang diizinkan. Termasuk pernikahan maupun even lainnya, ada yang diizinkan dengan syarat tertentu dibatasi. Nantinya satgas di kemantren yang mengawasi. Jika nanti ada ketidakmampuan penyelenggara dalam penerapan prokes, bisa saja kegiatan dihentikan.

“Maka dari itu sejak kemarin kami sudah aktifkan posko-posko Covid-19 di tingkat RT sebagai antisipasinya. Tidak dipungkiri kasus Covid-19 saat ini mulai menanjak lagi,” jelasnya.

Kendati demikian, kondisi pasien yang terkonfirmasi Covid-19, 85 persen tanpa gejala atau OTG. Namun akan berbahaya bagi warga yang memiliki penyakit bawaan atau komorbid. Maka antisipasinya adalah membatasi aktivitas warga dan juga kedisiplinan menjaga prokes. Minimal menggunakan masker.

“Dari data kami, lansia dan anak-anak ini yang cukup rawan terhadap Covid-19 varian Omicron. Tapi kita optimistis bisa menekan laju Omicron. Memang syaratnya harus menjalankan prokes dengan baik. Kita tidak boleh anggap remeh, meski gejalanya tidak lebih parah daripada Delta. Kita tidak ingin gelombang tiga ini berlangsung 4-5 bulan. Kalau bisa berlangsung cepat, dua bulan maksimal,” tandasnya.

Siswa Positif Jadi 17 Orang

Jumlah siswa yang terpapar Covid-19 selama pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di Kulonprogo terus bertambah. Hingga pertengahan Februari ini saja, Gugus Tugas setempat sudah mencatat ada 18 belas kasus penularan.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo Baning Rahayujati menyampaikan, kasus penularan virus yang terjadi di lingkungan sekolah telah menyasar kepada 17 siswa. Serta satu tenaga pendidik yang diketahui berasal dari program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).

Ke-18 kasus penularan virus Covid-19 itu tersebar di delapan sekolah. Tujuh di antaranya merupakan jenjang pendidikan SLTA dan satu dari SLTP.

Baning menerangkan, kasus penularan di sektor pendidikan itu ditemukan Gugus Tugas dari kegiatan surveilans atau swab acak. Hingga saat ini Gugus Tugas sendiri sudah melakukan swab acak kepada sekitar 116 siswa dari total 2.337 sasaran surveilans. Atau mencapai lima persen dari total sasaran yang tersebar di 61 sekolah.

“Untuk sekolah yang terjadi kasus penularan saat ini sudah kami hentikan PTM-nya atau sudah melaksanakan pembelajaran jarak jauh,” ujar Baning kemarin (10/2).

Sekretaris Dinas Kesehatan Kulonprogo ini menambahkan, kegiatan surveilans yang dilakukan pihaknya pada awal tahun ini merupakan tahap kedua. Pada tahap pertama di November 2021 lalu, Gugus Tugas mencatat ada 94 siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulonprogo Arif Prastowo mengatakan, dengan banyaknya kasus penularan di sekolah pihaknya sudah menerbitkan kebijakan untuk pelaksanaan PTM di tiap sekolah kini dibatasi maksimal 20 anak. Selain itu, juga dilakukan pengurangan terhadap waktu pembelajaran bagi siswa dan guru yang saat ini dibatasi tidak boleh lebih dari enam jam mata pelajaran.

Kemudian untuk sekolah yang fasilitasnya belum mendukung untuk menjalankan kebijakan itu, Disdikpora telah berkoordinasi dengan pihak sekolah agar melakukan PTM secara shifting terhadap para siswanya. “Sekolah juga dipersilakan  mengatur durasi jam pelajaran sesuai ketersediaan guru dan kapasitas sekolah. Hal ini penting agar guru tidak mengalami kelelahan ketika mengajar dalam dua shift,” kata Arif. (wia/inu/laz)

Jogja Utama