RADAR JOGJA – Wakil Ketua DPRD DIJ Huda Tri Yudiana mendorong pemanfaatan bantuan tak terduga (BTT) Pemprov DIJ senilai Rp 95 miliar. Untuk persiapan kebutuhan fasilitas kesehatan (faskes) dan tempat isolasi terpusat (isoter) untuk mengantisipasi lonjakan penularan Covid-19.

Huda menegaskan, organisasi perangkat daerah (OPD) yang memiliki tugas dalam penanganan pandemi Covid-19 di DIJ harus proaktif. Saling berkoordinasi dan tidak menunggu untuk disuruh. “Pemerintah siapkan dana itu, instansi terkait jangan saling menunggu tapi proaktif koordinasi,” tegasnya Rabu (2/2).

Meskipun tidak berharap DIJ ikut mengalami gelombang ketiga pandemi Covid-19 , Huda berharap penularan bisa ditekan. Terlebih adanya varian Omicorn sifatnya mudah menular, fluktuatif ,dan tidak bisa diprediksi naik-turunnya kasus. “Kami mohon untuk menyiapkan perangkat-perangkat perawatannya. Sedia payung sebelum hujan,” ucapnya.

Selain persiapan teknis, Huda mengimbau agar seluruh masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan. Meskipun terlihat sepele, namun upaya pencegahan ini memiliki efek yang besar. Terlebih saat ini, masih banyak masyarakat yang dinilai abai. “Prokes kesehatan dihidupkan kembali, kenali karakter wabah ini penularan mulai masif,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial DIJ Endang Patmintarsih mengaku sudah mempersiapkan isoter di Hotel Mutiara. Dengan daya tambung lebih dari 100 orang. “Mudah-mudahan gak sampai segitu lah nanti,” harapnya.

Nantinya, kapasitas akan ditambah sesuai dengan kebutuhan. Sehingga sifatnya melihat perkembangan virus Covid-19 di DIJ. Endang menyebut, persiapan isoter menggunakan anggaran dari BTT yang dimiliki Pemprov DIJ senilai Rp4,6 miliar untuk enam bulan di Hotel Mutiara. Selebihnya, akan mengikuti perkembangan yang terjadi di lapangan. “Kami juga minta kabupaten kota harus ada selter untuk mengantisipasi,” jelasnya.

Sementara itu, Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji meminta kabupaten dan kota di DIJ segera mendata jumlah kasus positif Covid-19. Dan segera menyesuaikan jumlah isoter. Untuk mengantisipasi adalah lonjakan kasus yang terjadi sewaktu-waktu.

“Paling tidak kita ini punya kasus aktif 400-an orang. Itu yang masuk di isoter berapa, kita ingin tahu. Kalau belum cukup, ya mari kita tambah,” jelas Aji di Kompleks Kepatihan.

Pemprov DIJ, kata Aji, juga tengah melakukan upaya mendeteksi varian Omicorn. Setidaknya saat ini tercatat ada 58 sampel probable Omicron yang tengah diperiksa dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) S Gene Target Failure (SGTF).”Hasil SGTF yang probable akan ditindaklanjuti dengan WGS (Whole Genome Sequencing),” bebernya.

Dari 58 sampel, diketahui baru satu orang yang positif Omicron. Dan saat ini, yang bersangkutan sudah sembuh dan kembali ke DKI Jakarta. Juru Bicara Pemprov DIJ untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih merinci, kasus terkonfirmasi Covid-19 didominasi warga Sleman sebanyak 56 kasus. Disusul 52 kasus warga Bantul, 19 warga Kota Jogja, 12 warga Kulon Progo, dan 3 warga Gunungkidul. “Penambahan kasus sembuh sebanyak 15 kasus sehingga total sembuh menjadi 151.805 kasus dan 1 kasus meninggal sehingga total kasus meninggal menjadi 5.277 kasus,” ujarnya. (cr4/eno)

Jogja Utama