RADAR JOGJA – Jika kabupaten dan kota fokus vaksinasi booster untuk lansia, Pemprov DIJ memilih pada tenaga pendidik. Alasannya termasuk kelompok rentan. Apalagi dengan mulainya pembelajaran tatap muka (PTM).
Ketua Satgas Percepatan Vaksinasi DIJ Sumadi memastikan guru masuk dalam prioritas penerima booster. Selain itu adapula lanjut usia, pemilik riwayat penyakit bawaan atau komorbid. Pertimbangannya potensi terpapar karena adanya interaksi.

Untuk guru secara khusus digolongkan dalam tenaga pendidik. Artinya penerima booster vaksin tidak hanya profesi guru. Adapula karyawan atau sosok yang beraktivitas di lingkungan sekolah. “Guru ini menjadi tenaga pengajar di kelas. Lalu sekolah juga menggelar PTM penuh. Sehingga sangat penting para guru untuk menerima booster,” ujarnya, Selasa (18/1).

Persyaratan penerima booster sama dengan booster untuk lansia. Minimal berjarak 6 bulan pasca dosis kedua. Selain itu juga diutamakan dengan vaksin primer Sinovac. “Para guru menerima booster vaksin jenis AstraZeneca atau Pfizer dengan setengah dosis,” kata mantan Sekda Sleman itu.

Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji juga mendorong para guru mengikuti booster vaksin Covid-19. Tujuannya untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Booster vaksin, lanjutnya, secara tidak langsung juga mendukung pelaksanaan PTM 100 persen. Dengan meningkatnya imunitas maka memberi jaminan kesehatan bagi para guru. Selain itu juga dapat meyakinkan para orangtua tentang kesehatan anaknya selama di sekolah. “Tergolong rentan karena aktivitas yang tinggi di sekolah. Apalagi jika melaksanakan PTM 100 persen,” jelasnya.

Mantan Kepala Disdikpora DIJ ini memastikan ketersediaan vaksin aman. Untuk penerima vaksin primer Sinovac akan mendapatkan vaksin booster AztraZeneca atau Pfizer. Sementara untuk vaksin primer AstraZeneca masih menunggu ketersediaan vaksin Moderna. (dwi/pra)

Jogja Utama