RADAR JOGJA – Upaya konservasi Candi Borobudur terus dilaukan. Di antaranya dengan aturan baru penggunaan sandal upanat. Jumlah pengunjung per hari yang bisa naik pun dibatasi. Berapa?

NAILA NIHAYAH, MUNGKID, Radar Jogja

Sesuai arahan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, saat menaiki Candi Borobudur harus menggunakan sandal upanat. Pasalnya, hal tersebut ada di relief Karmawibangga nomor panel 150, Candi Borobudur. Persembahan alas kaki yang berbentuk seperti upanat.

Kepala Balai Konservasi Borobudur Wiwit Kasiyati mengatakan, telah melakukan beberapa kajian terkait penggunaan alas tersebut. Bahkan, sebelum Candi Borobudur ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).”Dari hasil kajian, kami pernah menguji coba dengan menggunakan bahan kayu untuk melapisi tangga. Kemudian, kami lepas karena hanya kajian,” jelasnya, kemarin (18/1).

Wiwit menyebutkan, pernah memakai karet juga. Setelah dilihat hasilnya, kurang memuaskan. Sandal pun juga diuji coba. Namun, hasilnya nihil. Pihaknya belum menemukan alas yang tepat. Hingga pada akhirnya, kajian tersebut terhenti.

Dengan penetapan Borobudur sebagai KSPN, pengunjung akan semakin berbondong-bondong menyambangi Candi Borobudur. Sehingga kajian tersebut dilanjutkan. Pasalnya, dengan jumlah pengunjung yang kemungkinan membludak, tingkat kerusakan di Candi Borobudur akan semakin meningkat.

Untuk itu, pihaknya membuat perhitungan visitor caring capasity. Dari perhitungan undak, selasar, lorong satu, dua, tiga, empat, dan lima hingga stupa atas, muncul angka 1.259. Angka tersebut merupakan ideal pengunjung yang naik dalam sehari.

Dengan adanya pembatasan pengunjung yang naik, Wiwit memikirkan cara untuk meminimalisasi pasir yang terbawa alas kaki. Pasalnya, yang membuat aus di Candi Borobudur adalah pasir. “Akhirnya sandal yang dulu pernah kami kaji dan melalui workshop, kami angkat kembali dengan sayembara,” tuturnya.

Pada akhirnya, kajian mengenai sandal diangkat kembali dengan memfokuskan  tingkat kenyamanan dan keamanan. Terlebih, jika sandal tersebut dapat dijadikan sebagai suvenir. Jadi, ketika pengunjung turun dari candi, tidak membawa barang rusak.

Saat pelaksanaan workshop, ada berbagai macam model. Mulai dari selop hingga yang memakai jepit upanat. Setelah diujicobakan, selop dinilai kurang nyaman. Lain halnya dengan bentuk jepit. Dari tingkat keamanan lebih tinggi.

Akhirnya, sandal tersebut ditetapkan bentuknya seperti upanat yang ada di Candu Borobudur. Bahannya pun diambil dari kawasan Borobudur. Mendong dan pandan.

“Saat masuk tahap terakhir, praktik membuat produksi sandal itu kami dibantu oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan sekaligus di-launching oleh Pak Dirjen,” ujar Wiwit.

Sandal ini memang bertujuan untuk melestarikan batu candi, bukan hanya sekadar suvenir semata. Jika hanya sekedar souvenir, nantinya pengunjung akan protes terkait harga tiket Candi Borobudur yang naik.

Perihal rencana pengelolaan ke depan, pengunjung hanya diperbolehkan naik jika memang ingin belajar dan mengetahui lebih banyak soal Borobudur. Pun harus ditemani oleh pemandu wisata. Tidak hanya berkeinginan untuk swafoto. “Yang naik ke struktur benar-benar yang ingin mengetahui nilai-nilai out standing universal value dari pemandu. Jadi, harga tiket online itu nanti termasuk harga beli sandal dan pemandu,” paparnya.

Harga tiket pun masih dalam tahap persiapan. Akan ada perbedaan tiket bagi yang hanya di pelataran maupun yang berkeinginan naik ke struktur candi.

Terkait kajian penggunaan alas kaki tersebut, telah dikaji secara intensif selama satu tahun. Namun, model dasarnya lebih dari setahun. Lantaran hal tersebut harus melalui proses panjang untuk mencegah keausan tangga.

Penggunaan sandal ini secara tidak langsung dapat memberdayakan masyarakat. Perekonomian pun akan semakin naik setelah dua tahun pandemi. “Kalau hanya kayu atau karet, cost-nya juga tinggi dari APBN. Terlebih risiko keamanan karena tangga candi relatif curam,” kata Wiwit.

Pemakaiannya pun tidak dari bawah candi. Melainkan, sandal tersebut digunakan ketika hendak menaiki struktur candi. Sehingga tidak berpotensi membawa pasir dari sandal sebelumnya.”Tidak ada penitipan sepatu. Nantinya, akan kami berikan kantong untuk memasukkan sepatu,” ujarnya. (pra)

Jogja Utama