RADAR JOGJA – Tangan dengan ujung kuku yang kehitaman itu menggenggam dua nomor antrean, B-328 dan B-329. Hari beranjak siang, tapi masih bersabar menunggu lebih dari 100 giliran.

Mengenakan sandal jepit berwarna hijau, Tardiyanto memilih setelan senada dengan dua cucunya yang berseragam pramuka. Berkemeja warna krem dan celana coklat gelap. Ketiganya pun kompak mengenakan masker hitam.
Saat dihampiri, Tardiyanto tengah duduk. Sementara kedua cucunya bergelayut pada kursi yang ia sandari. Sempat kaget, dia lantas menjelaskan tujuannya datang ke GOR Prapto Raharjo. Ternyata untuk mengantar dua cucunya suntik vaksin Covid-19.
“Ini mengantar Cahyo dan Bisma,” tuturnya pelan, hampir kalah oleh suara petugas yang memanggil nomor urut dan disiarkan dengan pengeras kemarin (13/1).
Pria 73 tahun ini terima mengantar sendiri Cahyo dan Bisma, kendati harus menempuh jalanan berbukit dengan jarak sekitar tiga kilometer menggunakan sepeda motor. Sebab, ibu dari kedua cucunya itu tidak dapat meninggalkan pekerjaan.
“Jadi mamanya mereka minta saya untuk mengantar,” jelasnya. Tidak dapat menolak permintaan anaknya yang nomor dua itu, Tardiyanto lalu menyanggupi. Petani dengan tiga anak ini pun rela meninggalkan sawahnya. “Ya ndak papa, pokok mengantar cucu vaksin dulu,” tambahnya seraya menunjuk ke arah sang cucu.
Kakek 10 cucu ini mengaku risau Cahyo dan Bisma tidak dapat mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah. Padahal di rumah, tidak ada yang mampu memberi pengajaran dengan layak. Sementara sekolah memberi syarat hanya siswa yang divaksin saja yang boleh datang. “Cucu saya harus vaksin supaya bisa sekolah. Kerjaan ditinggal dulu, saya tunggu sampai selesai,” ungkap Tardiyanto.
Begitu nomor urutnya dipanggil, Cahyo memberitahu simbahnya. Dia antusias karena teman-temannya di rumah, Jolosutro, Jombor, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, sudah menerima vaksin. Oleh sebab itu, siswa kelas IV SD ini juga memberanikan diri. “Nggak, saya nggak takut disuntik,” cetusnya.
Sementara Bisma irit bicara. Mukanya tegang, tidak sanggup menutup rasa cemas. Tapi bocah tujuh tahun ini patuh. Dia mengacungkan jari jempol kala menerima suntikan. Wajahnya baru kembali semringah, saat nakes menyatakan selesai. Rampung menerima vaksin, Cahyo dan Bisma tidak langsung pulang. Mereka sejenak menunggu kartu vaksin yang dituliskan petugas.
Vaksinasi yang diikuti Cahyo dan Bisma terselenggara atas kerja sama Badan Intelijen Nasional Daerah (Binda) DIJ dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul. Kegiatan menyasar 1.500 anak usia enam sampai 11 tahun di Kalurahan Srimulyo.
Penyuntikan vaksin menggunakan data berbasis sekolah. Di mana dalam gelarannya kemarin, terdapat sembilan SD dan delapan TK. “Selain vaksin anak, kami juga siap menggelar booster,” ujar Saiful, penanggung jawab program vaksinasi BINDA wilayah Bantul. (fat/laz)

Jogja Utama