RADAR JOGJA – Kasus kejahatan jalanan atau klithih masih menjadi perhatian Pemprov DIJ. Wacana ingin menghidupkan kembali Prayuwana untuk mengatasi persoalan ini, butuh kajian ulang.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono X mengatakan, rencana itu masih dibahas di lingkungan pemprov. Namun, tak serta merta langsung diimplementasikan. Ternyata masih butuh kajian lagi, utamanya menyangkut perbedaan kondisi dulu dan sekarang.

“Seperti Prayuwana, nanti kita bicara lebih jauh. Yang penting kan sudah dtangkap, ya sudah berproses saja dulu. Ini untuk meredam berita maupun meredam kekhawatiran masyarakat. Ya yang penting masalah klithih tidak muncul lagi yang bisa mengganggu bidang pariwisata,” kata gubernur di Kompleks Kepatihan, Jogja, kemarin (30/12).

Sementara Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji menambahkan, Prayuwana sejatinya adalah tempat pendidikan bagi anak-anak nakal atau semacam sekolah luar biasa. Jika orang tua merasa kewalahan mendidik anak, bisa diserahkan kepada lembaga pendidikan itu. Sampai saat ini memang dinilai lembaga yang dikelola swasta di bawah naungan pemprov itu masih ada dan berjalan. “Itu masih ada, tapi kan perlu dikaju dulu,” katanya.

Apa yang perlu dikaji? Baskara Aji menyebut berkaitan dengan model pembelajaran atau pendidikan yang diberikan, apakah masih update menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Jika masih update dengan kondisi saat ini, maka diklaim bisa saja langsung dilakukan pendidikan di sekolah itu. “Kalau masih update, ya bisa saja itu kita lakukan. Kan beda dulu dengan sekarang. Tapi kalau hasil kajiannya sudah tidak sesuai kondisi sekarang, perlu dicari jalan keluar yang lain,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) sepakat pelaku klithih memang harus dibuat efek jera. Sejauh ini pemkot sudah menjalin sinergi dengan berbagai stakeholder, baik Polresta, OPD terkait maupun lembaga KPAI untuk melakukan upaya-upaya persuasif. Tujuannya agar pelaku dapat membangun rasa empati.

“Seperti kita buat sanksi sosial, seperti kerja-kerja sosial, misalnya ke panti-panti asuhan. Mereka harus juga memberikan perhatian kepada para orang-orang yang ditinggal di sana,” katanya.

Namun langkah-langkah persuasif itu masih dalam tahap penyusunan bersama lintas sektor. Tetapi telah disepakati bersama. “Kita sudah punya satu langkah bareng yang sekarang lagi disusun formulasi tahapannya,” ujarnya.

Kendati masih tahap proses penyusunan, selama ini pemkot bersama Polresta dan OPD terkait ketika melakukan pemeriksaan kepada pelaku klithih, sekaligus memanggil orang tua bersangkutan. Ini agar orang tua mengetahui tentang perilaku yang terjadi kepada anaknya.

Dengan begitu, orang tua menjadi paham bagaimana mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Sejak si anak keluar dari rumah sampai pada kegiatan di luar juga harus dipantau. “Jangan sampai dibiarkan anak-anak keluar di malam hari tanpa kita tahu di mana dia. Kita titip kepada orang tua untuk mencermati pola pertemanan anaknya, apakah memberikan efek positif baginya,” pesannya.

Selain itu, meski fenomena klithih terjadi acak di wilayah tertentu, pemkot turut berupaya menambah lampu penerangan, termasuk CCTV di sudut-sudut Kota Jogja. Maka, kejadian-kejadian yang ada di kota akan bisa ditangkap dengan jelas serta memudahkan mencari jejak pelaku. (wia/laz)

Jogja Utama