RADAR JOGJA – Sekitar 300 jenazah di makam Jopraban, Wirobrajan tepatnya di selatan SMP Muhammadiyah 3 Jogja akan direlokasi seluruhnya. Hal ini sesuai permintaan warga untuk menjadikan eks makam tersebut menjadi ruang terbuka hijau publik () atau fasilitas umum.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan pemindahan makam tersebut berdasar permintaan masyarakat. Ada berbagai pertimbangan kenapa harus dipindahkan yaitu kondisi makam sudah penuh, bertahun-tahun lamanya tida ada penambahan pemakaman. Serta seringkali digunakan untuk kegiatan masyarakat yang tidak menguntungkan.

“Jadi itu sebenarnya warga seluruh RT, RW disana audiensi ke sini dan membuat surat karena makam itu sudah tidak banyak digunakan, kemudian minta diambil alih,” katanya Selasa(7/12).

HP menjelaskan saat ini pemindahan makam sudah dimulai secara bertahap. Dari sekitar 300 makam yang ada, baru 175 makam yang teridentifikasi ahli warisnya sebagai penentu lokasi pemindahan makamnya. Sebab pemindahan makam ini diserahkan sepenuhnya kepada keluarga, termasuk penentuan lokasi pemindahannya. “Mau dipindah kemana itu terserah keluarga, tapi yang mebiayai semua pemkot. Ada yang dipindah di Bantul, ada yang tetap di kota semua sesuai permintaan keluarga,” ujarnya.

Praktis pemindahan ini tidak ada penolakan dari warga karena diklaim sudah sesuai kesepakatan bersama. Maka, sesuai permintaan warga sekitar, lahan dengan luas sekitar 2 ribu meter persegi di eks makam Jopraban, Wirobrajan tersebut ke depan direkomendasikan menjadi RTHP. Meskipun, ada pula yang menghendaki lahan tersebut untuk balai RW, atau untuk fasilitas yang bertujuan dapat menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
“Ke depan kami tata. Kekancingannya kita ajukan ke keraton agar kegunaannya untuk kepentingan pemkot dan masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, memang tidak sedikit makam yang belum teridentifikasi ahli warisnya dibanding dengan yang sudah. Pemkot masih berupaya menelusuri ahli waris tersebut. Ditargetkan pemindahan makam selesai pada akhir tahun ini.

“Makanya sekarang kita monitor, karena ternyata masih banyak makam yang pakai nisan batu-batu hitam besar. Itu sangat berat dan tidak mudah diangkat atau dihancurkan, jadi perlu peralatan khusus,” jelasnya.

Mantri Pamong Praja, Kemantren Wirobrajan, Sarwanto mengatakan sejauh ini sudah melakukan sosialisasi dan pendekatan dengan para ahli waris makam untuk melakukan pemindahan makam. Dan diklaim bahwa sebagian besar ahli waris setuju untuk memindahkan makam leluruhurnya itu. Namun, memang pemindahan ini ditargetkan selesai seluruhnya pada 2022 mendatang. Teknis pemindahan dilakukan oleh OPD terkait yakni Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Jogja.

“Untuk yang tersisa belum dipindah akan dilanjutkan awal 2022. Dimana dipindahkannya tergantung ahli waris menghendak dimakamkan dimana, ada yang di sekitar kemantren Wirobrajan, Bantul, Kulonprogo. Bahkan ada yang minta dipindahkan ke Salatiga,” katanya. (wia/bah).

Jogja Utama