RADAR JOGJA – Kasus Covid-19 di lingkungan sekolah kembali muncul di berbagai daerah. Di Gunungkidul, kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas SLB Negeri 1 Wonosari dihentikan sementara karena sejumlah siswanya dinyatakan tertular virus korona.

Kepala SLB Negeri 1 Gunungkidul Widi Pranyata mengatakan, ada tujuh orang terkonfirmasi Covid-19. Mereka dalam kondisi baik dan kini menjalani isolasi mandiri. Kasus tersebut muncul ketika dilakukan kegiatan tes acak di sekolah.

Dari total 174 siswa, 52 karyawan dan guru, tujuh siswa dinyatakan positif korona. “Sesuai dengan program, awalnya pengetesan akan dilakukan secara acak,” kata Widi saat dihubungi Radar Jogja kemarin (25/11).

Namun setelah koordinasi dengan puskesmas, diputuskan tes korona dilakukan secara menyeluruh kepada seluruh siswa, karyawan maupun guru. Rencananya tes lanjutan digelar minggu depan karena belum semua menjalani swab.

“Ketujuh siswa positif korona berasal dari sejumlah kapanewon seperti Semanu dan Ponjong,” ujarnya. Dia memastikan, mereka yang dinyatakan terkonfirmasi positif dalam kondisi baik dan tanpa ada gejala. Seperti dua siswa yang berada di asrama, meski dinyatakan positif tidak ada keluhan serius pada kesehatan.

Untuk memutus mata rantai persebaran virus ini, pembelajaran tatap muka di SLB Negeri 1 Wonosari dihentikan sementara waktu. “Kami kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh. Rencananya sampai 6 Desember, tapi itu masih sangat situasional karena bergantung hasil tes swab lanjutan,” ungkapnya.

Pihaknya berharap penularan di lingkungan sekolah bisa segera dihentikan, sehingga PTM terbatas dapat dilanjutkan. Oleh sebab itu hasil swab minggu depan diharapkan sesuai harapan. “Mudah-mudahan tidak ada lagi siswa, guru atau karyawan yang tertular korona,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawaty membenarkan adanya kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di SLB wilayah Wonosari. Upaya pencegahan penularan dilakukan dengan tracing, testing dan treatmen.

Selain itu juga akan melakukan penelusuran kepada warga yang kontak erat dengan siswa positif.  “Secara umum kasus korona memang masih fluktuatif, penularan landai. Tapi tidak boleh abai dan harus disiplin menjalankan protokol kesehatan,”  tandas Dewi.

Di Kota Jogja, dari hasil skrining acak akumulasi sejak Senin (22/11) di berbagai sekolah ditemukan empat siswa terkonfirmasi positif. Kesemuanya berstatus orang tanpa gejala (OTG). Pelacakan kontak erat pun tengah dilakukan.

Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, 1.015 orang dari 14 sekolah yang sudah diskrining dengan metode swab PCR, ditemukan empat siswa positif. “Tapi kondisinya OTG semua, sekarang sedang ditracing yang kontak erat,” katanya di Balai Kota Timoho kemarin (25/11).

HP menjelaskan, pelacakan masih dilakukan terhadap siswa dan anggota keluarganya yang kontak erat terhadap empat siswa yang terkonfirmasi positif. Tracing yang sudah berjalan 70 persen itu dinyatakan negatif semuanya. Tidak satu pun hasil yang menyatakan positif.

“Hari ini yang kita tracing ada sekitar 59-60 orang dari empat siswa tadi. Ada siswa dan keluarga yang ditracing. Jadi satu siswa itu rombongan belajarnya kan 17 orang,” ujarnya.

Terkait riwayat penularan, belum dapat dipastikan datang dari mana karena masih ditelusuri. Hanya diakui Wakil Wali Kota Jogja itu bahwa semua siswa itu memang tidak tinggal di Kota Jogja. Ada di antara siswa yang orang tuanya baru saja pindah dari Makassar ke Jogja. Meski begitu, rata-rata mereka sudah vaksinasi Covid-19.

“Tapi yang penting buat saya, kalau di kontak eratnya ternyata negatif berarti proses prokes di sekolah dan rumah sudah bagus. Yang kita curigai mungkin yang kedeteksi cangkangnya karena CT (Cycle Threshold)-nya sampai 37, 39. Karena setelah tanya keluarganya, ibunya ada yang bulan Juli kena, kemudian mereka isolasi,”  tambahnya.

Akibat kasus yang muncul itu, kini PTM di  sekolah tersebut dihentikan sementara. HP enggan menyebutkan nama dan jenjang sekolah yang terkena kasus Covid-19. “Sekolah (PTM) kita hentikan dulu, satu sekolah saja. Empat siswa tadi dari satu sekolah,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja Budi S Asrori mengatakan, munculnya kasus itu tidak mempengaruhi kegiatan PTM di sekolah lain. Masih berjalan seperti biasa dan jam belajar juga masih sama.

Hanya satu sekolah yang ditutup sementara, yaitu yang terdapat kasus Covid-19. Pembelajaran pun dialihkan dengan belajar dari rumah. “Persentasenya sangat kecil (temuan kasus di sekolah), maka kami minta meningkatkan dan mengoptimalkan prokes lagi. Karena penularan itu dari keluarga, bukan di sekolah,”  katanya. (gun/wia/laz)

Jogja Utama