RADAR JOGJA – Puluhan pedagang yang terancam tergusur dampak dari pengembangan Rumah Sakit (RS) Pratama harus siap menentukan nasibnya. Pemerintah Kota Jogja menyiapkan tiga alternatif bagi mereka salah satunya ialah relokasi ke pasar lain.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan tiga alternatif itu salah satunya memindahkan atau merelokasi para pedagang menuju Pasar Sentul. Ini juga menyusul rencana Pemkot akan mengembangkan pasar yang berlokasi di Pakualaman itu menjadi pasar lebih baru. “Kita ingin mengembangkan pasar Sentul menjadi pasar baru dengan konsep lantai yang lebih banyak. Nanti sebagian dari sejumlah pedagang yang terdampak akan dipindah ke Sentul,” katanya selepas menerima audiensi para pedagang Pasar Ciptomulyo, Senin (23/11).

Namun demikian, ada konsekuensi yang mengikuti jikalau 23 pedagang material di Pasar Ciptomulyo itu direlokasi ke Pasar Sentul. Otomatis komoditas yang mereka jual harus menyesuaikan dengan segmentasi pasar tersebut. “Tapi otomatis dengan perubahan itu tidak mungkin menjual material lagi. Tapi para pedagangnya kita beri kesempatan itu, kalau mau (direlokasi),” ujarnya.

Sementara alternatif kedua sebagian pedagang dipersilakan menempati kiosnya saat ini di Pasar Ciptomulyo. Hanya, konsekuensinya pemkot perlu menyiapkan skema bangunan yang dinilai rumit. Sebab, lokasi pasar yang mereka tempati sudah ditentukan untuk pengembangan parkir maupun fasilitas rumah sakit. “Otomatis kan menggerus lahan yang agak banyak. Tapi masih ada alternatif ketiga berdasarkan masukan teman-teman tadi. Pokoknya kita carikan jalan tengah,” jelasnya.

Menurutnya pengembangan RS Pratama sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan akreditasi dari tipe D ke tipe C. Salah satu indikatornya memang perlu perluasan tempat parkir. Selama ini rumah sakit Pratama memiliki lahan parkir yang terbatas. Maka, salah satu yang dimungkinkan dilakukan perluasan ialah dengan memakai lahan lahan Pasar Ciptomulyo. “Memang dari sisi akreditasi itu titik lemahnya pada tempat parkir. Jadi kemarin rekomendasi dari tim akreditasi menambah tempat parkir. Karena layanan di rumah sakit juga sudah semakin banyak,” terangnya.

Terlebih, tanah yang dipakai Pasar Ciptomulyo berstatus Sultan Ground yang sudah ada kekancingan untuk Pemkot Jogja per tahun 2020 lalu. Dalam kekancingan tersebut mengatakan memang untuk perluasan rumah sakit dan parkir. “Pasar (Ciptomulyo) sudah dihapus dari pasar tradisional,” tandasnya.

Meski demikian, rencana perluasan tersebut belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Sebab tahun ini masih dimatangkan master plannya. Pun paling cepat proyek tersebut bakal dilakukan tahun 2024 mendatang dengan catatan anggarannya tersedia. Artinya dalam tahun 2022 dan 2023 para pedagang masih bisa berjualan disana. “Mulai sekarang ini kita sudah sosialisakan tentang potensi-potensi rencananya supaya dalam 2 tahun itu mereka siap dengan segala sesuatunya. Supaya apa yang akan dikerjakan disaatnya nanti sudah siap-siap sejak sekarang,” tambahnya.

Orang nomor dua di Kota Jogja itu tidak menampik bahwa proses penataan tersebut memang masih sangat panjang. Dan dengan catatan jika anggaran memungkinkan. Sedangkan untuk pengembangan rumah sakit memakai Dana Alokasi Khusus (DAK).

Saat Wartawan mencoba meminta keterangan pihak pedagang selepas audiensi dengan Wakil Wali Kota, tidak ada satupun yang bersedia. Mereka memilih bungkam dan tanpa berkomentar apapun. Serta menyerahkan semua ini pada pemerintah. “Nggak usah, langsung ke Pak Wawali saja, ya,” kata seorang pedagang kepada awak media, sembari berjalan meninggalkan ruangan audiensi. (wia/bah)

Jogja Utama