RADAR JOGJA – Alih fungsi trotoar di Kota Jogja kembali dikeluhkan. Seperti perilaku pengendara motor area Jalan Pasar Kembang (Sarkem) yang memanfaatkan trotoar untuk memarkir kendaraan bermotor.

Fenomena ini dikeluhkan oleh warganet yang menuliskan cuitannya di Twitter Senin (22/11) disertai unggahan foto yang menunjukkan trotoar dipenuhi kendaraan bermotor. Dalam foto tersebut juga dimanfaatkan untuk parkir becak motor. “Sebagai pejalan kaki terus saya lewat mana ini, ya?” keluhan @nurudinwriter dalam postingan tersebut.

Mantri Pamong Praja, Kemantren Gedongtengen, Ananto Wibowo mengatakan, kemunculan fenomena tersebut dimungkinkan pasca -Malioboro mulai ramai dikunjungi wisatawan. Sebab selama masa PPKM diklaim tidak pernah ada yang memarkir kendaraan di sana. “Kami jelas nggak memperbolehkam termasuk di sisi utara, udah ada garis biku-biku,” katanya kepada Wartawan kemarin (22/11).

Ananto tidak mengetahui secara pasti pengalihan fungsi trotoar tersebut menjadi parkir kendaraan roda dua. Apakah memang warga yang membuka lahan parkir liar atau inisiatif pemilik kendaraan. Pun pihaknya tak memiliki kewenangan untuk melakukan penertiban kerena menjadi domain Dinas Perhubungan (Dishub) Jogja. “Yang markiri siapa saya nggak tahu, itu izin atau nggak saya juga nggak tahu. Kalau seandainya ada parkir liar tugas dari Dishub,” ujarnya.

Meski begitu, kemantren tetap akan melakukan berbagai antisipasi agar tidak muncul parkir dan juru parkir liar di wilayah kewenangannya tersebut. Namun, upayanya hanya bisa sebatas berkoordinasi dengan wilayah tingkat dibawahnya untuk mengingatkan. “Kami ingatkan Pak RW biasanya terus mengingatkan orang-orang yang dianggap pengelola,” jelasnya. “Kami mengawasi 24 jam juga nggak mungkin, jadi hanya sekedar mengingatkan saja,” tambahnya.

Terpisah, Kabid Pengendalian Operasional Dishub Kota Jogja, Asung Waluyo mengatakan, operasi penertiban parkir liar memang sudah rutin dilakukan tiap Sabtu dan Minggu. Namun, pengalih fungsian trotoar di Jalan Sarkem itu menjadi parkir kendaraan bermotor belum menjadi sasarannya. “Kalau yang itu sedang kami koordinasikan untuk segera ditertibkan,” katanya.

Sudah dipastikan, fenomena dilokasi larangan parkir tersebut tidak ada jukir. Hanya, bisa dimungkinkan ada yang bermain kucing-kucingan dengan petugas. “Kalau untuk motor-motor di trotoar mereka pada ditinggalkan begitu saja. Tapi kami pernah melakukan penggembosan semua kendaraan yang disitu tapi tidak jera-jera. Parkir di trotoar ya jelas tidak boleh, trotoar kan untuk pejalan kaki,” tandasnya.

Maka, Dishub melakukan koordinasi segera dengan jajaran kepolisian untuk melakukan penindakan lanjutan. Juga Satpol PP untuk penertiban pedagang. “Ada juga plang (penanda jalan) Pasar Kembang di-centeli dagangan,” cetusnya.

Beberapa hari terakhir operasi gabungan yang digelar bersama TNI dan Polri menyasar kendaraan yang parkir dimarka biku-biku atau larangan parkir sepanjang Jalan Sarkem. Telah berhasil menjaring dan menertibkan sekitar 20 kendaraan. Di antara empat kendaraan dilakukan penilangan karena mendapati driver di lokasi tersebut. Penilangan dilakukan oleh pihak kepolisian sesuai dengan kewenangannya. Besaran denda yang harus dibayarkan sebesar Rp 75 ribu hingga R p100 ribu. “Kalau bolak balik mobil kok nggak jera ya digembosi,” imbuhnya. (wia/pra)

Jogja Utama