RADAR JOGJA – Sudah 76 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, bukan saatnya lagi memperdebatkan ideologi negara. Tapi menjawab tantangan zaman. Termasuk mempersiapkan Indonesia emas 2045 dan persoalan bangsa yang belum usai.

“Pembahasannya sekarang harusnya mencari solusi berbagai persoalan bangsa yang sudah merdeka 76 tahun ini,” kata anggota MPR RI dari Fraksi PAN Ibnu Mahmud Bilaludin dalam sosialisasi empat pilar pada kader muda Muhammadiyah di Pandanaran Hotel, Selasa (23/11). “Sebagai contoh pemetaan wilayah sampai sekarang ini belum rampung,” lanjut anggota Komisi 2 DPR RI yang membidangi pemerintahan dan pertanahan tersebut.

Penerus Hanafi Rais di DPR RI itu menambahkan, dibanding meributkan dasar dan ideologi negara, pembahasan harusnya bisa lebih maju. Seperti untuk menerjemahkan frasa terakhir dalam Proklamasi yaitu, ‘Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.’

“Pernah tidak terfikir pemindahan kekuasaan itu apa? Dan lain-lain itu apa,” ungkapnya. Menurut dia, sejarah panjang Indonesia hingga kemerdekaan sudah dirumuskan para pendiri bangsa. Termasuk tokoh Muhammadiyah seperti Ki Bagus Hadikusumo. “Kita punya sejarah panjang yang bisa dipelajari,” tambahnya.

Ketua DPW PAN DIJ Suharwanta menambahkan, konsensus bersama tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sudah final. Dia sepakat, sudah bukan waktunya lagi memperdebatkan dasar negara saat ini. “Sudah tak perlu riuh rendah, sekarang saatnya mendiskusikan mengisi perjalanan bangsa,” katanya.

Wakil Ketua DPRD DIJ itu menambahkan, banyak negara yang usianya lebih muda dibandingkan Indonesia, tapi lebih maju secara ekonomi, politik, pendidikan hingga sosial budaya. Salah satunya, kata dia, karena mereka sudah tidak lagi memperdebatkan dasar negara. Suharwanta pun mengajak kader Muhammadiyah untuk bersama-sama memikirkan masa depan bangsa. “Apalagi menyongsong Indonesia emas 2045, 100 tahun kemerdekaan, Indonesia harus merdeka seutuhnya,” kata dia. (pra)

Jogja Utama