RADAR JOGJA – Anggota DPD RI asal DIJ GKR Hemas mengingatkan agar masyarakat tetap waspada karena pandemi Covid-19 belum berakhir. Termasuk di sektor pariwisata.

Menurut dia, sektor pariwisata dan berbagai kegiatan masyarakat di Jogja sudah berangsur-angsur pulih. Hanya saja angka penularan harian masih bergerak antara 10-50 orang selama sebulan terakhir. Meski, lanjut dia, angka kematian harian bergerak dari 0 sampai dua orang perhari. “Saya berharap dalam minggu-minggu mendatang angkanya stabil pada angka 0, sehingga kita tidak perlu khawatir lagi, dan bisa yakin terhadap program vaksinasi yang telah kita lakukan,” kata Hemas dalam sosialisasi Pancasila, Sabtu (13/11).

Ibu lima puteri itu menambahkan, pandemi ini memang sangat menyakitkan bagi bangsa Indonesia. Ekonomi terpuruk, korban meninggal mencapai 144 ribu orang. Sementara di Jogja, korbannya mencapai 5.255 orang. Meskipun sangat sedikit, angka ini masih terus bertambah, dan beberapa klaster Covid kembali muncul di Jogja. “Jadi prinsip kehati-hatian harus kita terapkan, sejalan dengan target capaian vaksinasi 100 persen pada Januari 2022 nanti,” ungkapnya.

Kehati-hatian, lanjut dia, memang harus diterapkan karena kebangkitan ekonomi utamanya dilakukan melalui sektor pariwisata, sehingga banyak sekali mobilitas manusia. Harus berhati-hati pada oknum wisatawan yang sudah tidak peduli dengan orang lain, dan tidak peduli dengan keselamatan masyarakat Jogja. “Kita di sini selalu menyambut wisatawan dengan baik sesuai dengan budaya dan local wisdom yang kita milik, ” katanya.

Hemas juga mengingatkan, saat ada program vaksinasi massal, semua komponen masyarakat muncul untuk membantu sesama manusia, menjadi pahlawan yang mungkin luput dari pemberitaan. Demikian juga bila ada program kampanye Kesehatan yang lain semua segera ikut ambil bagian.

Budaya dan local wisdom di Jogja banyak mengajarkan nilai-nilai luhur, yang juga sangat sesuai dengan Pancasila. Ada garis imajiner antara Gunung Merapi, Kraton Jogja dan Pantai Selatan. Garis ini menyimbolkan kesatuan antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam.
Ditambah dengan Tugu dan Panggung Krapyak, garis ini juga merupakan simbol dari bersatunya pemimpin dengan rakyat.

Filosofi Jogja menunjukkan sila kesatu pada Blangkon yang dipakai di kepalanya. Segala ilmu dan iman tidak boleh dipamerkan, tapi disimpan dalam bungkus yang ada di belakang kepala.
Sila kedua terlihat dalam berbagai gamelan dan tarian, yang selalu melambangkan kemanusiaan, keadilan dan peradaban. Sila ketiga muncul dalam filosofi garis imajiner Merapi-Tugu-Kraton-Panggung Krapyak dan Pantai Selatan. Sila keempat terlihat dalam pemerintahan Keraton yang berlandaskan Tahta Untuk Rakyat. Di mana Sultan selalu bekerja keras menghabiskan waktu, tenaga dan pemikirannya untuk keselamatan dan kemakmuran rakyat. Dan sila kelima bisa kita jumpai dalam budaya perayaan sekaten. Di mana hasil alam dan semua anugrah Tuhan harus bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Saya ingin mengingatkan agar kita tidak boleh patah semangat untuk menolong sesama. Percayalah bahwa kita akan segera keluar dari Pandemi ini. Kerja keras kita akan membawa hasil berupa kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Dan kita bisa melihat kembali senyuman dan wajah-wajah gembira dari orang-orang di sekitar kita,” ujarnya dengan optimistis. (pra)

Jogja Utama