RADAR JOGJA – Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur hampir merata di wilayah DIJ, kemarin (11/11). Hujan semalaman itu menyebabkan talut longsor di Prambanan (Sleman) dan Terban (Kota Jogja). Di sekitaran UGM, empat pengendara motor tertimpa pohon sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Di sekitaran UGM, pohon besar yang tumbang karena hujan disertai angin itu terjadi di Jalan Teknika Utara, sebelah utara RSUP Dr Sardjito. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan mengatakan, ada empat korban luka akibat peristiwa ini.

Empat korban yang tertimpa pohon atas nama Hentik Setyorini, 40, warga Bedingin Tlogpadi, Mlati, Sleman. Ia mengalami lecet dan trauma. Korban lain pasangan suami istri dan anak, warga Sendangmulyo, Minggir, Sleman. Korban atas nama FX Dartono, 45, yang mengalami patah tulang iga belakang; Efi Yanti, 36, yang mengalami kaki nyeri dan Valentinus Arvianto, 9.

Selain menimpa pengendara sepeda motor, pohon tumbang saat hujan deras kemarin siang juga menimpa tiang listrik dan menutup akses badan jalan. “Petugas kini sudah mengondisikan di sekitar lokasi kejadian dengan melakukan langkah  pembersihan,” ujar Makwan.

Di Kapanewon Prambanan, longsor menumpa menimpa rumah warga. Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sleman Adib Maskur menyebutkan, longsor terjadi sekitar pukul 06.00, menimpa rumah milik Eko Rahmanto, 35, warga Padukuhan Gedang Bawah RT 4/RW 9, Kalurahan Sambirejo

Kerusakan parah terjadi di bagian dapur dan ruang utama. Akibatnya, dapur seluas 8 x 3 meter itu tak bisa digunakan lagi lantaran dindingnya ambrol. Lalu dinding ruang utamanya retak-retak sepanjang 11 meter.

“Longsoran talu itu sepanjang 20 meter dengan tinggi 4 meter. Sementara rumah Eko  berjarak satu meter dari talut,” ungkap Adib. Dijelaskan, talut itu merupakan penyangga jalan kampung dengan struktur tanah bertebing.

Tidak ada korban jiwa atas kejadian ini. Namun Eko dan keluarganya sementara mengungsi ke rumah tetangga terdekat. “Sebab proses evakuasi belum selesai. Masih dilanjutkan besok (hari ini, Red),” kata Adib. Proses evakuasi melibatkan desa tangguh bencana (Destana) dan warga sekitar.

Hujan juga menyebabkan satu rumah warga di padukuhan yang sama  mengalami rusak ringan tertimpa talut. Lalu satu rumah lainnya tertimpa pohon.

Kasi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono menambahkan, hal yang patut diwaspadai, bagi warga yang tinggal di sekitar tebing agar berhati-hati. Selalu mengecek kondisi tanah. Terutama saat hujan datang dengan intensitas tinggi.

Jika ditemui adanya rekahan tanah, sebaiknya segera menjauhi lokasi. Tidak hanya itu, untuk mengantisipasi adanya pohon tumbang akibat angin kencang, hendaknya melakukan pemangkasan ranting pohon. “Memangkas ranting sehingga dapat mengurangi beban pohon,”  katanya.

Korban Longsor Alami Luka Berat

Di Kota Jogja, hujan dengan intensitas tinggi ditambah faktor keretakan cukup lama mengakibatkan talut longsor sekitar pukul 10.15 di wilayah Terban RT 02/RW 01, Gondokusuman, kemarin (11/11). Akibat peristiwa ini, seorang warga mengalami luka berat dan dibawa ke rumah sakit karena tertimbun longsoran hampir setengah badan korban.

Warga sekitar, Aminah Zubandi mengatakan, sebelum terjadi longsor korban sedang membuat teh panas dan sarapan di rumahnya, sekitar pukul 09.00. Selang satu jam setelahnya ia mendengar suara seperti dentuman keras yang menuju arah rumah adik sepupunya itu.

“Sekitar pukul 10.00 terdengar glueeerrr..bleeeng sambil ada suara teriakan minta tolong. Aku sama ponakan sedang duduk di sini (depan rumah menghadap Kali Code, Red), saya kira rumah di atas. Nggak tahunya kaki korban sudah tertimbun sampai setengah badan,” kata Aminah kepada wartawan di lokasi kejadian kemarin (11/11).

Perempun 52 tahun itu menjelaska, musibah talut longsor itu sudah yang kali kesekian. Dulu sekitar 2005 pernah mengalami hal sama, sebanyak dua kali longsor. Ia merupakan warga terdampak dari penggusuran pembangunan apartemen. “Paling nanti malam saya tidur di rumah sebelah dulu, khawatir juga ada longsor susulan,” ujarnya.

Bakir Pryatino, relawan Kampung Tangguh Bencana (KTB) Terban  mengatakan, faktor utama dari longsornya talut itu selain terkena hujan juga karena sudah retak lama. Dari sepanjang kurang lebih 30 meter terdiri dari tiga saf talut yang ada sebagian besar sudah rapuh karena usianya yang sudah puluhan tahun.

Meski sudah sebagian yang diperbaiki. “Ini yang jelas faktor utama karena talutnya sudah rapuh dan struktur tanahnya ya sudah berpuluh-puluh tahun usianya. Kalau dilihat semua, memang sudah retak,” kata Bakir yang juga warga sekitar.

Proses evakuasi membutuhkan waktu sekitar satu jam karena kesulitan memindahkan material bebatuan yang memiliki berat dan ukuran tidak kecil dan tidak ringan. Akhirnya, setelah satu jam korban berhasil dievakuasi dan dilarikan ke RS Panti Rapih menggunakan ambulans dari PSC 119 YES Kota Jogja.

“Pas kita mau evakuasi, korban udah tertimbun setengah badan. Senam jantung kita karena tembok pun sudah gantung, takut ikut ambrol. Kesulitannya juga ngeruk-ngeruk batu dengan batako. Saat itu korban sadar, kaki kanan patah sama tulang pinggul mungkin karena terdesak sesuatu yang berat ya,” terangnya.

Kepala BPBD Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan talut yang longsor memiliki panjang 11 meter dengan tinggi 8 meter dan lebar 6 meter. “Ya, karena hujan cukup deras, kejadian longsor pukul 10.00. Korban atas nama Pak Sukmanto, 58, mengalami luka berat dibawa ke rumah sakit,” katanya.

Koordinator TRC BPBD Kota Jogja DC Purnomo menambahkan, untuk tindakan yang dilakukan adalah mengevakuasi korban dan menutup sementara talut dengan tiga lembar terpal untuk mengantisipasi longsor susulan. Setidaknya tidak terdampak menimpa rumah-rumah warga. Serta sudah dipasang garis polisi agar area longsoran dan sekitarnya tidak dilalui warga sekitar.

Dugaan sementara diklaim selain hujan deras juga keretakan pada talut yang cukup lama. Bangunan yang terdampak rusak hanya satu rumah tepat bagian kamar korban. “Jadi untuk aktifitas siang nggak masalah, tapi kalau malam tetap waspada ya. Karena melihat kondisi masih cukup ada ancaman susulan,” katanya.

Tim dari TRC bekerjasama dengan tim di wilayah akan berkoordinasi secara intens untuk memantau kondisi terkini. Posko siaga 24 jam dengan pantauan langsung dari BPBD Kota, didirikan tak jauh dari lokasi longsor untuk mengantisipasi bencana susulan untuk beberapa hari ke depan.

“Ancamannya tinggal satu rumah yang ada di sisi selatan. Ada satu KK ya, 3 sampai 4 jiwa. Jadi warga sekitar tetap berhati-hati,” tambah Purnomo.

Banjir Genangan di Pesisir Selatan

Hujan dengan intensitas sedang mengguyur Kabaten Gunungkidul. Hujan berdurasi 11 jam kemarin (11/11) memicu rentetan bencana seperti banjir genangan dan tanah longsor. Akibat kejadian ini, kerugian materi ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, banjir genangan merendam sejumlah wilayah pesisir Pantai Selatan. Kemudian tanah longsor menerjang zona utara seperti Kapanewon Gedangsari dan Patuk.

Salah satu kawasan terdampak banjir genangan adalah Pelabuhan Sadeng di Kalurahan Songbanyu, Kapanewon Girisubo. Wilayah itu sejak pagi hari terendam banjir genangan dengan ketinggian air mencapai satu meter. Kuat dugaan luapan air merupakan kiriman dari perkampungan dan sungai purba yang airnya mengarah ke kawasan pemukiman Pelabuhan Sadeng.

“Akibatnya barang berharga milik warga hanyut dan sebagian warga lainnya sempat mengungsi ke gedung di sekitar Pelabuhan Sadeng,” ungkap Koordinator Tim SAR Korwil I Wilayah Gunungkidul Sunu Handoko.

Setelah air berangsur surut, kata dia, Bupati Gunungkidul Sunaryanta mendatangi lokasi dan memberikan bantuan logistik ke kampung nelayan tersebut. Pihaknya memastikan tidak ada laporan korban luka maupun korban jiwa dalam peristiwa itu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul Edy Basuki menyebutkan, selain banjir genangan, dampak hujan juga memicu tanah longsor di sejumlah kapanewon. “Data belum semua masuk,” katanya.

Laporan awal, longsor ada di Padukuhan Candi, Kalurahan Tegalrejo, Kapanewon Gedangsari, talut rumah milik Sriyanto ambrol, dan berpotensi longsor susulan. Kemudian talut ambrol milik Mus Hariyanto ambrol tidak kuat menahan debit air di Padukuhan Karanglor 1, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari. “Longsor juga terjadi di rumah salah seorang warga di Padukuhan Putat, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk,” terangnya.

Dikatakan, berdasarkan informasi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan diprediksi mengalami peningkatan pada November-Desember 2021 dan mencapai puncaknya Januari- Februari 2022. “Kami mengimbau kepada warga yang tinggal di zona merah agar meningkatkan kewaspadaan,” tegasnya.

Terpisah, Komandan Save Rescue Agus Fitriyanto mengungkapkan, berdasarkan pendataan tim Save Rescue di lapangan, dilaporkan telah terjadi tanah longsor di lima titik. Satu rumah milik Minten, warga Padukuhan Menggoran, Kalurahan Bleberan, Kapanewon Playen, dilaporkan roboh.

“Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa rumah ambruk ini. Penyebabnya karena memang sudah lapuk dan terkena hujan serta angin, sehingga roboh,” kata Agus.

Di bagian lain, Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Handayani Gunungkidul Totok Sugiarta mengatakan, hujan deras mengakibatkan pelayanan kepada pelanggan tertanggu untuk sementara waktu. “Inlet SBT Seropan off operasi, karena kekeruhan air baku di atas 400 NTU,” katanya.

Untuk sementrara waktu aliran ke pelanggan dinonaktifkan sampai air kondusif untuk dioperasikan. Wilayah terdampak meliputi Kapanewon Ponjong, Karangmojo, Semin, Semanu, dan Kalurahan Baleharjo bagian timur. “Ada 14 ribuan pelanggan terdampak,” ungkapnya. (mel/wia/gun/laz)

Jogja Utama