RADAR JOGJA – Penggelapan dana kredit dengan modus pemalsuan data tengah marak di Jogjakarta. Korbannya adalah dua kantor PT, Federal Internasional Finance (FIF) di Sleman. Pertama adalah kantor di Rogoyudan Mlati dan kasus kedua terjadi di Kantor FIF Cabang Jogjakarta 2.

Kasus pertama berawal pada proses pengajuan kredit oleh dengan nama LS pada medio Maret 2021. Kala itu pengajuan pinjaman kredit mencapai Rp 10,2 juta. Dengan jaminan berupan BPKB Honda Vario 125 AB 3205 EO. Kecurigaan berawal saat FIF melakukan survei. Ada kejanggalan transaksi pada Agustus 2021. Hasilnya atas nama LS tidak pernah mengajukan pinjaman di PT.FIF. “Bahkan tidak mempunyai unit yang sebagai penjamin tersebut,” jelas Kasatreskrim Polres Sleman Ronny Prasadana di Mapolres Sleman, Selasa (26/10).

Dari hasil penelusuran terbukti adanya pemalsuan data nasabah. Modusnya dengan memalsukan keterangan dan tanda tangan. Pasca dana kredit turun, pelaku tidak membayar sama sekali cicilan perbulan.Pasca-laporan kepolisian, penyidik Satreskrim Polres Sleman berhasil menangkap tersangka RF alias Febri, 32 dan HS alias Dian, 38. Keduanya terbukti sebagai pelaku pemalsuan data untuk kasus pertama. Febri terlebih dahulu tertangkap pada 25 September 2021 menyusul kemudian Dian pada 3 Oktober 2021.“Motifnya ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Kasus kedua tak jauh berbeda, dengan modus pemalsuan data. Pengajuan kredit sebesar Rp 9 juta pada 17 Oktober 2020. Menggunakan nasabah atas nama Juminem dengan jaminan surat BPKB Honda AB 3273 FM. Waktu berjalan hingga April 2021, nasabah tak melakukan pembayaran. Hingga akhirnya dilakukan pemeriksaan lapangan oleh PT. FIF. Hasilnya atas nama tersebut tidak melakukan pinjaman bahkan tidak mempunyai unit yang menjadi jaminan tersebut.“Kami amankan tersangka inisial LPA alias Panji dan SG alias Gito,” ujarnya.

Atas perbuatannya ini, keempat pelaku dijerat dengan pasal yang sama. Berupa Pasal 35 UU RI Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia Subsider Pasal 263 KUHP. Keempatnya mendapatkan ancaman penjara lima tahun. (dwi/pra)

Jogja Utama