RADAR JOGJA – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIJ bersama Polresta Jogja berhasil mengamankan 10 ekor satwa dilindungi. Satwa yang disita seluruhnya diperjual belikan secara online. Direncanakan akan dilepasliarkan. Tapi menunggu rehabilitasi, terutama pada gigi taringnya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA DIJ, Untung Suripto mengatakan, 10 jenis satwa liar dilindungi yang diperdagangkan online. Di antaranya tujuh ekor Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), satu ekor Binturong (Arctictis binturong), satu ekor buaya Muara (Crocodylus porosus) sepanjang 40 cm dan satu ekor buaya Irian (Crocodylus novaeguineae) ukuran 75 cm.  “Perdagangan online saat ini memang sangat marak karena komunikasi atau sistem penjualan sangat mudah dan bisa darimana saja,” katanya saat memberikan keterangan pada Konferensi Pers di Gembira Loka Zoo Jumat(22/10).

Untung menjelaskan kasus perdagangan online saat ini semakin meningkat. Terlebih dengan berbagai kemudahan media sosial dalam proses jual belinya. Seperti puluhan hewan yang disita itu penjualannya berada di Semarang melintas wilayah. Jogja diklaim termasuk yang paling banyak pengungkapan perdagangan.

Menurutnya, hewan yang paling besar ialah Kukang Jawa dari mamalia masuk primata. Jenis Kukang ini biasanya selain untuk kesenangan eksotik juga dipakai untuk pengobatan. Ini diklaim yang perlu diwaspadai. Pun hewan jenis ini juga, termasuk direkomendasikan untuk dilepasliarkan langsung. “Berdasarkan pengamatan dan referensi dokter hewan bisa dilepasliarkan, untuk yang lainnya menyesuaikan,” jelasnya.

Conservation Manager Gembira Loka Zoo Josephine Vanda Tirtayani menambahkan, selama kurang lebih satu minggu hewan-hewan liar itu sudah dilakukan penyelamatan selama tujuh hari pasca-penangkapan. Sekaligus pemeriksaan secara umum baik dari segi kesehatannya, rambut, mata, dan gigi yang paling penting. Dari tujuh Kukang diantaranya lima jantan dan dua betina. Sebelum dilepasliarkan, akan direhabilitasi atau diperbaiki dulu untuk memastikan kondisinya dalam keadaan baik terutama masalah gigi taringnya.”Kami perbaiki, rehabilitasi dulu di sini biar kondisi giginya baik. Ini karena untuk mencari sumber makanan utamanya yaitu getah,” katanya.

Dari hasil itu, hampir semua taring dan gigi seri daripada Kukang itu dipotong oleh si penjual. Ini demi menjaga keamanan penjual dalam masa menghandel perpindahan kandang, sehingga kemungkinan tergigit jauh lebih sedikit. Selain itu, ada Kukang dengan kondisi mata yang terluka.

Kasat Reskrim Polresta Jogja, Kompol Andhyka Donny Hendrawan menjelaskan, penungkapan kasus bermula dari adanya anggota yang sedang melakukan patroli cyber di media sosial Facebook. Saat itu petugas mencurigai akun milik pelaku yang berinisial RD diduga memperdagangkan jual beli hewan dilindungi. “Saat kami lacak, ternyata pelaku tinggal di Semarang,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan, pelaku tersebut sudah beraksi sejak tiga bulan lalu. Pelaku menjual hewan tersebut di banderol dengan harga satu Kukang Jawa Rp 750 ribu, Binturong seharga Rp 4 juta, dan buaya Muara maupun Irian seekor Rp 1 juta. “Tersangka mendapatkan barang ini dari penjual online juga kemudian dipasarkan dengan wilayah pengiriman se-nusantara,” ujarnya.

Atas perbuatannya, pelaku terancam UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 84 ayat (2) KUHAP. Dengan ancaman hukuman penjara maksimal lima tahun dan denda paling banyak Rp100 juta. (wia/pra)

Jogja Utama