RADAR JOGJA – Dalam upaya mencegah gelombang 3 Covid-19, angkutan pariwisata yang masuk kota Jogja akan dikendalikan. Uji coba skema one gate system akan dilakukan mulai besok (23/10) dan Minggu (24/10).

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan penerapan one gate system, bertujuan memastikan seluruh wisatawan mematuhi ketentuan PPKM terutama wajib vaksin. Sebab, selama lima minggu terakhir ini kota Jogja sudah didatangi oleh banyak wisatawan, terutama pada akhir pekan. ‚ÄĚkami selalu mencoba menjadikan level 2 tetap dalam kendali,” ujarnya dalam keterangan persnya Kamis (21/10).

Konsekuensi dengan penerapan one gate system, setiap kendaraan angkutan umum antarkota antarprovinsi, anatarkota dalam provinsi, angkutan antarjemput antarprovinsi, maupun angkutan pariwisata besar, sedang, dan kecil wajib masuk dan singgah di terminal Giwangan. Ini untuk pemeriksaan kelengkapan perjalanan penumpang termasuk operator kendaraan terutama terkait vaksin.

“Ini akan menjadi bagian upaya kami mengatur masuknya pariwisata yang datang terutama ke Malioboro. Karena di Malioboro nanti dimaksimalkan dua jam dan untuk parkir maksimal tiga jam,” jelasnya.

Seandainya bus lolos skrining, maka diberi tanda stiker lolos syarat dokumen perjalanan dan stiker tanda parkir. Sehingga dipersilahkan memasuki kota.
Seandainya tidak memperoleh clearance berupa stiker dari terminal, maka mereka tidak bisa mengakses tiga TKP sekitar Malioboro yakni Abu Bakar Ali, Ngabean, maupun Senopati. Pemkot menyiapkan sanksi untuk para pelanggar. “Kalau tempat parkir menerima bus yang tidak lolos skrining akan kami tutup beberapa waktu. Tidak bisa menjadi tempat parkir,” jabarnya.

Agar pelaksanaannya berjalan baik, pemkot juga menurunkan tim gabungan dari dishub, Satpol PP, polresta, TNI, juga gugus tugas tingkat kemantren untuk menertibkan bersama.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja, Agus Arif Nugroho mengatakan penerapan ini sebenarnya intruksi pusat. Dasarnya dari Surat Edaran Satgas Nsasional, Menteri Perhubungan dan Intruksi Mendagri. Seluruh perjalanan wajib masuk terminal, agar standar prokes yang sudah ditentukan dalam perjalanan bisa dipatuhi. “Kami berusaha membiasakan. Justru kami ingin meringankan proses skrining agar siapapun nanti yang masuk stay di Jogja melalui skrining, ekonomi tumbuh kesehatan terjaga,” katanya.

Ketua DPD Asita DIJ, Hery Setyawan mengatakan aturan penerapan ini cukup mempersulit perjalanan wisata. Terutama para tamu-tamu yang datang. Mata rantai menuju hotel maupun kota Jogja menjadi cukup panjang. Biasanya dari luar kota bisa langsung masuk kota, dengan one gate system harus singgah dulu di terminal Giwangan. “Prinsipnya sekarang agak sedikit repot ya, tapi ini perlu sarana prasarana dan personelnya siap. Sekalipun sedikit panjang prosesnya menuju ke kota, tapi bisa lancar aja yang penting,” katanya. (wia/bah)

Jogja Utama