RADAR JOGJA – Akhir dari pencarian setelah bertahun-tahun berstatus buronan, seorang mantan dosen perguruan tinggi swasta di Jogjakarta, Lilik Karnaen (LK) dibekuk oleh Tim Tangkap Buronan (Tabur). Lilik merupakan terpidana tindak pidana korupsi program rehabilitasi dan rekontruksi pasca gempa 2006 di DIJ.

Pantauan Radar Jogja di Kantor Kejati DIJ Selasa (19/10), terpidana LK dibawa langsung menggunakan kendaraan darat dari lokasi penangkapan di Kota Bandung. Dengan pengawalan cukup ketat, terpidana tiba di kantor Kejati sekitar pukul 15.21.

Plt Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ, Tanti A Manurung mengatakan terpidana berusia 64 tahun itu ditangkap oleh tim Intelijen Kejati DIJ dibantu Tim Intelijen Kejati Jawa Barat serta Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Bandung di Hotel Amaroossa kamar 316, Bandung, kemarin pukul 05.30.

“Terpidana terpantau ada aktivitas di sana dan titiknya di-detect oleh tim Intelijen Kejati kami,” katanya saat memberikan keterangan pada konferensi pers di Kantor Kejati DIJ.

Tanti menjelaskan, LK telah menjadi buronan sejak 21 Desember 2016. Terpidana ditangkap berdasarkan Putusan Mahkamah Agung (MA) RI Nomor 188K/pidsus/2013 tanggal 10 Juli 2014 dalam perkara Tindak Pidana Korupsi Penyalahgunaan Dana Rehabilitasi dan Rekontruksi Pasca Gempa Tahun 2006 di Kecamatan Bantul.

Terpidana LK dinyatakan masuk daftar pencarian orang (DPO) karena yang bersangkutan sudah tidak berada di tempat kediamannya pada saat melaksanakan putusan terpidana. Bukan tanpa alasan, LK tengah menjalani pidana penjara korupsi dalam perkara lain.

Disebutkan, posisi kasus terdakwa ialah selaku tim koordinator ahli madya teknik sipil Program Rehabilitasi dan Rekontruksi Pasca Gempa Bumi di Provinsi DIJ. Bersama-sama dengan lurah Desa Dlingo, Juni Junaidi. ”Korupsi dengan cara melakukan pemotongan dana bantuan program rehabilitasi dan rekontruksi pasca gempa yang bersumber dari APBN,” terangnya.

Dari 315 kepala keluarga di desa Dlingo yang seharusnya masing-masing menerima Rp15 juta dilakukan pemotongan 20 persen dan terkumpul sebesar Rp911.250.000. Diantara yang digunakan untuk kepentingan terdakwa LK sebesar Rp372.750.000 dan sisanya digunakan untuk kepentingan Junaidi.

Sementara, Kepala Kejaksaan Negeri Bantul, Suwandi mengatakan, sebelumnya terpidana LK sudah berada di rumah tahanan Jogja dalam rangka menjalani putusan perkara korupsi yang lain. Setelah selesai perkara, berikutnya belum turut penetapan dari Hakim MA untuk melakukan penahanan terhadap perkara yang saat ini. “Baru hari ini kami temukan. Ini segera kami eksekusi sesuai dengan putusan MA yaitu selama 4 tahun di LP Jogjakarta,” katanya. (wia/bah)

Jogja Utama