RADAR JOGJA – Suasana Indonesia bagian Timur dan Oseania langsung terasa ketika memasuki Jogja National Museum, kemarin (5/1) petang. Sebab, Biennale Jogja XVI yang kembali digelar tahun ini mengusung konsep mempertemukan Indonesia terutama Indonesia Timur dengan Oseania.

Pameran seni ke-16 itu sendiri mulai digelar hari ini (6/1) hingga 4 November mendatang.

Kenapa memilih kawasan Indonesia dan Oseania? Direktur Yayasan Biennale Jogja Alia Swastika menjawab, ”Karena memiliki banyak kemiripan. Termasuk mengenai sosial budaya.”

Ia menyebut, Biennale Jogja XVI Equator #6 memiliki kontribusi besar dalam kesenian global. Bahkan menjadikan DIJ sebagai pusat kesenian dunia. Apalagi dengan menggandeng seniman dari berbagai negara. Selama 10 tahun ini sudah bekerjasama dengan India, 2013 dengan Arab, lalu 2015 dengan Nigeria, Brazil, Asia Tenggara, dan ditutup dengan Oseania. “Kita punya kontribusi besar untuk sejarah kesenian global, kita rangkul seniman dari berbagai negara,” lanjutnya.

Sementara itu Ayos Purwoaji selaku kurator pada Biannale Jogja XVI menyebutkan ada 34 kelompok seniman yang terlibat dalam ajang tersebut. Mereka berusaha menampilkan karya seni yang memotret situasi sosial budaya yang terjadi di Indonesia dan Oseania. “Memberikan perspektif untuk kita terhadap apa yang terjadi di Indonesia Timur dan Oseania,” kata Ayos.

Ada banyak karya seni luar biasa yang dipamerkan pada Biennale Jogja XVI kali ini. Namun, ada beberapa yang menarik perhatian. Salah satunya adalah karya kelompok seniman asal Papua Udeido Collective yang diberi nama Karori Projection.

Sementara itu, kelompok seniman Lakoat Kujawas juga memiliki keterusikan yang kurang lebih sama. Mereka mencoba mencoba memotret ruang dan praktik seni budaya di Mollo, Nusa Tenggara Timur yang mulai digerus. Padahal dalam seni budaya Mollo tersebut banyak tertuang nilai hidup. Salah satunya pada rumah tradisional mereka yang disebut Uem Bubu.

Salah satu anggota Lakoat Kujawas, Dicky Senda yang juga orang asli Mollo menyebut melalui Uem Bubu bisa diketahui banyak hal. Seperti soal identitas marga, bahasa, hingga gastronomi. “Tapi belakangan justru rumah Uem Bubu itu dianggap tidak sehat, kemudian muncul banyak rumah-rumah yang katanya modern dari tembok itu yang justru menghilangkan banyak nilai hidup di Mollo,” tandasnya. (kur/pra)

Jogja Utama