RADAR JOGJA – Menghadapi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) turun level menjadi level 3, supermarket dan hypermarket didorong menggunakan QR Code, untuk mengakses layanan PeduliLindungi layaknya di mal.

“Untuk Supermarket sudah kami siapkan. Sesuai dengan Inbup (Instruksi Bupati Nomor 27 tahun 2021),” ungkap Sekretaris Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Sleman Haris Martapa dihubungi kemarin (10/9).

Di dalam Inbup itu tertera supermarket dan hypermarket wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi mulai 14 September mendatang.
Haris menyebutkan, sudah ada 11 supermarket dan hypermarket yang hendak menggunakan aplikasi tersebut. Itu berdasarkan hasil monitornya. “Masih dalam proses penyiapannya,” sambungnya.

Saat ini pihaknya masih berkonsentrasi pada pengawasan mal dan pusat perbelanjaan yang lebih dulu memberlakukan aplikasi peduli lindungi. Memastikan penggunaan aplikasi ini berjalan baik. Dipastikan berjalan sesuai peratuan Kementrian Pedagangan (Kemendag), Insturksi Gubernur hingga Inbup.

Lalu bagaimana dengan pasar tradisional? Haris mengatakan, ke depan akan dilaksanakan secara bertahap di tempat pembelanjaan. Perlahan akan menyesuaikan. Kendati begitu semua berpatok pada kebijakan pemerintah pusat. Ada 42 pasar yang dikelola Pemkab Sleman. Di tambah pasar desa kurang lebih ada 36 unit, pasar swasta dan pasar koperasi totalnya ada 6 unit.
Pihaknya terus berkoordinasi dengan lurah pasar sebagai koordinator gugus tugas pasar. Gugus tugas terdiri dari unsur pegawai dari dinas, paguyuban dan pelaku atau pedagang. “Ini supervisinya harus menyentuh gugus tugas,” tuturnya.

Pasar tradisional, seiring masifnya vaksinasi dan turunnya level PPKM, diakui Haris, berdampak pada omzet pendapatan pasar. Khususnya pasar tradisional yang dikelola Pemkab, kunjungan pasar meningkat 50 persen.
Disebutkan alasan aplikasi Peduli Lindungi belum diterapkan di Pasar Tradisional, karena dilihat dari antusias kunjungan, kunjungan anak-anak di pasar tradisional lebih rendah dibandingkan di Mal. Sehingga belum menjadi prioritas.

Saat ini yang tengah disiapkan bagi pasar tradisional, memperbaiki maupun melengkapi fasilitas akses protokol kesehatan (prokes) yang rusak maupun belum terpenuhi. Haris menekankan agar pengunjung pasar atau tempat pembelanjaan agar tidak lengah terhadap prokes, meski mobilitas mulai tinggi.
Pedagang Pasar Potrojayan Prambanan Susanti mengaku ada sejak PPKM level 3 ini kunjungan pembeli di pasar tersebut meningkat. Dia setuju jika ada pengetatan pengunjung dengan pemberlakuan fasilitas PeduliLindungi dalam rangka menjaga keamanan untuk kesehatan bersama. Tetapi menurutnya, itu tidak cukup berpengaruh pada kunjungan di pasar tersebut.

Pedagang Jamu Herbal yang berjualan di pasar relokasi Potrojayan itu menyebut, mayoritas pembeli usia produktif dan lansia. Hampir tidak ada kunjungan anak-anak. “Ini aja pembelinya rata-rata ya pelanggan tetap. Anak-anak dan lansia tua jarang. Lagian saya melayani take a way,” pungkasnya. (mel/bah)

Jogja Utama