RADAR JOGJA – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim menginginkan pembelajaran tatap muka (PTM) diberlakukan. Namun, pelaksanaan pembelajaran tatap muka itu dilakukan dengan cara terbatas.

Saat ini, Mendikbud Ristek pun telah mengizinkan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dilakukan pada satuan pendidikan di wilayah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 1-3.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menegaskan, bahwa di DIJ tidak akan menggelar pembelajaran tatap muka, apabila seluruh pelajar di DIJ belum menjalani vaksinasi Covid-19 minimal dosis pertama.

HB X khawatir jika kebijakan sekolah tatap muka bakal meningkatkan risiko penularan virus korona, jika tidak disertai dengan persiapan yang matang. “Guru kan sudah kita selesaikan vaksin, pelajar juga harus divaksin. Kalau belum jangan dilakukan (sekolah) tatap muka. Risikonya terlalu besar,” ungkapnya, kemarin (25/8).

Lebih lanjut, HB X berharap agar pelaksanaan vaksinasi di DIJ dapat terselesaikan di bulan Oktober ini. Pihaknya pun tengah menggenjot pelaksanaan vaksinasi agar dosis vaksin yang disuntikkan setiap hari dapat meningkat dari 12 ribu menjadi 20 ribu dosis. “Makannya sekarang digenjot vaksin masyarakat supaya di bulan September awal Oktober ini bisa diselesaikan,” tutur HB X.

Juru Bicara Pemprov DIJ untuk penanganan pandemi Covid-19, Berty Murtiningsih menyatakan saat ini tercatat ada 311.596 remaja usia 12-18 tahun yang menjadi sasaran vaksinasi. Sedangkan sebanyak 48.241 orang atau setara 15,48 persen telah menerima suntikan dosis pertama. “Kemudian sebanyak 21.422 orang atau 21,36 persen telah menuntaskan vaksinasi dengan menerima injeksi hingga dosis kedua,” jelasnya. (kur/bah)

Jogja Utama