RADAR JOGJA – Revitalisasi pedestrian Jalan Jenderal Sudirman tahap terakhir sudah mulai dikerjakan. Sesuai dengan kontrak, pekerjaan dengan alokasi anggaran Rp19,9 miliar dari Dana Keistimewaan itu akan selesai pada akhir tahun ini meliputi simpang Galeria Mal ke barat menuju simpang Gramedia.

Rencana itu membuat para pedagang kaki lima (PKL) yang sudah berjualan di area itu sejak puluhan tahun lebih muncul kekhawatiran. Pasalnya, tempat relokasi yang ditawarkan pemerintah, tidak sesuai dengan koordinasi dan kesepakatan dengan para PKL sejak awal. “Sejak dulu, rencana proyek itu kita sudah sepakat jika direlokasi nggak masalah, sepanjang masih bisa berjualan di tempat yang baru,” kata Ketua Kelompok PKL Jalan Jenderal Sudirman, Supardi kepada Radar Jogja di lapaknya Jumat (20/8).

Jalan Jenderal Sudirman.(RADAR JOGJA)

Dia menambahkan, sosialiasi dan pendekatan terhadap proyek tersebut sudah diterimanya dari Pemkot melalui wilayah kemantren sejak beberapa bulan lalu. Pada awal pemberitahuan, para PKL yang berjualan di Jalan Jenderal Sudirman itu akan ditata di Jalan Sam Ratulangi sepanjang 136 meter baik sisi timur dan barat jalan. “Kok sekarang hanya 46 meter untuk dibagi 46 anggota kami shift siang dan malam. Saya pusing mau baginya,” ujar penjual soto ayam.

Asumsinya, per anggota hanya dijatah dua meter yang padahal rata-rata minimal normalnya enam meter untuk berjualan kuliner. Diluar kuliner 2,5 meter normal lapaknya. Pun untuk PKL shift siang rerata lebih dari 26 orang yang berjualan, ketika malam bisa kurang dari itu. Terkait perubahan atas informasi ini, PKL yang sudah 40 tahun lebih berjualan disana belum menyepakatinya. “Gerobak saya aja dua meter. Mau gimana jualannya,” tandasnya.

Dikonfirmasi, Mantri Pamong Praja Kemantren Gondokusuman Guritno mengatakan, upaya pendekatan sudah dilakukannya sebagai pengampu wilayah. Sosialisasi bersama tokoh masyarakat juga masih berjalan. Terlebih, Selasa (24/8) masih ada kegiatan sosialisasi lagi. “Kami siapkan ada dua tempat relokasi nantinya. Supaya para PKL ini bisa berjualan lagi,” katanya ditemui di Kantor Kemantren kemarin.

Dua kawasan relokasi yang disiapkan yakni Jalan Sam Ratulangi dan Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo. Namun, tidak semuanya mampu tertampung karena keterbatasan lokasi. Pun pihaknya lebih fokus untuk menata PKL di Jalan Sam Ratulangi. Sedangkan yang di depan Rumah Sakit Bethesda akan dikoordinasikan dengan Paguyuban Pedagang Kaki Lima Yogyakarta (PPKLY). “Kalau yang masuk di Jalan Sam Ratulangi nanti ada sepuluh PKL, sehingga total di sana mencapai sekitar 20 PKL dengan yang sudah ada saat ini,” jelasnya.

Jalan Jenderal Sudirman.(RADAR JOGJA)

Tidak serta merta, pihaknya menerapkan aturan ketat dalam rangka penataan terutama yang di Jalan Sam Ratulangi. Sebab, merupakan kawasan yang cukup tertata dan stratgis sehingga PKL juga perlu menyesuaikan. Khususnya persoalan sampah yang tidak boleh ditinggalkan usai aktivitas perdagangan. Selain itu jual beli lapak secara tegas akan dilarang. “Misal sudah disediakan ruang di sana tapi, tidak mau memanfaatkan ya akan kami kosongkan. Tidak boleh terjadi pindah tangan. Ini akan kami tegaskan melalui pernyataan,” terangnya.

Menurutnya, Jalan Sam Ratulangi merupakan salah satu pintu masuk ke kawasan pendidikan yakni SMAN 9 Jogja maupun jalan menuju kawasan yang terdapat banyak bangunan cagar budaya. Sehingga menyangkut aspek kebersihan tetap harus dijaga. Sementara proses pekerjaan revitalisasi saat ini sudah diawali dengan pembongkaran trotoar. Bahkan Jalan Sam Ratulangi sudah dilakukan penataan lebih awal dengan pembuatan saluran limbah. Sesuai kontrak, pekerjaan fisik mencapai 150 hari sehingga akhir tahun sudah harus terselesaikan 100 persen. (wia/pra)

Jogja Utama