RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 yang sudah satu tahun lebih melanda Indonesia membuat beragam perayaan khas dalam memperingati hari kemerdekaan tak bisa dilakukan. Hal itu tentu saja berpengaruh pada omzet para pedagang bendera di Kota Jogja.

Santi salah satunya, wanita 34 tahun yang sudah berdagang bendera serta pernak-pernik khas kemerdekaan sejak 19 tahun terakhir itu mengaku tahun ini omzetnya sangat kecil. Bahkan, ketika Radar Jogja kemarin sore (11/8) berkunjung ke tempatnya berjualan di seberang Rusunawa Cokrodirjan Jogja, ia mengaku baru menjual empat lembar kain bendera. “Masih sepi penjualan, baru laku empat,” katanya.

Dia mengaku selama ini mendapatkan pasokan bendera dan pernak-pernik khas kemerdekaan yang lain dari Garut Jawa Barat. Namun, untuk bendera merah-putih yang standar, ia mendapatkannya dari hasil jahitan yang ibu di rumah. “Kebetulan ibu juga jahit bendera di rumah,” ujar Santi.

Hal tak jauh berbeda juga diungkapkan pedagang yang lain. Susan Novitasari. Wanita berusia 39 tahun itu menyatakan pemasukannya menurun drastis jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi.”Sebelum pandemi satu hari bisa dapat Rp 1-2 juta perhari. Sekarang Rp 500 ribu tuh sudah Alhamdulillah banget,” terangnya.

Menurutnya, ini disebabkan karena pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir. Selain itu, juga imbas dari kebijakan PPKM. Acara-acara untuk menyambut hari kemerdekaan pun banyak yang ditiadakan karena aktivitas masyarakat memang dibatasi pemerintah.

Padahal sebelumnya, panitia acara perayaan kemerdekaan biasa memborong barang dagangannya untuk kebutuhan acara. Sedangkan saat ini pembelinya didominasi pembeli perorangan untuk keperluan memasang bendera di depan rumah saja. “Mungkin karena tidak ada acara Agustusan dan juga PPKM juga jadi menurun. Yang beli cuma beli bendera untuk rumah,” terangnya.

Susan yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat kue ini berharap agar pandemi Covid-19 dapat segera berakhir. Sehingga penghasilannya kembali normal. (kur/pra)

Jogja Utama