RADAR JOGJA – PPKM Level 4 resmi diperpanjang hingga 2 Agustus mendatang. Para pedagang Malioboro berangsur mulai diizinkan beraktifitas ekonomi dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat.
Pantauan Radar Jogja Senin(26/7) di sepanjang Jalan Malioboro, meski masih nampak lengang kunjungan wisatawan.

Pedagang Kaki Lima (PKL) baik yang menjual pakaian maupun souvenir sudah terlihat membuka lapaknya untuk mengais rezeki setelah berhenti selama tiga minggu terakhir. Mereka yang beraktifitas, tengah menata-nata dagangan bisa dihitung dengan jari, sebagian besar lapak PKL masih tutup. Begitu juga, toko-toko yang lainnya.

Gubernur DIJ, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X sudah memberi lampu hijau kepada PKL dan warung-warung untuk kembali berjualan. Mereka diperkenankan untuk berjualan asal dengan menerapkan protokol kesehatan dan mematuhi peraturan yang ditetapkan. “Dimungkinkan PKL bisa jualan tapi dengan jam-jam tertentu. Boleh buka dan sebagainya. Sudah saya tandatangani keputusan gubernurnya,” jelas HB X, kemarin (26/7).

Kendati diizinkan berjualan, akses jalan menuju kawasan Malioboro belum akan dibuka secara penuh. Karena dikhawatirkan bakal menimbulkan kerumunan. Dengan dibukanya akses jalan secara bertahap, HB X berharap agar pelaku usaha memiliki kesempatan untuk kembali mencari nafkah. Menurutnya, kebijakan tersebut telah diuji cobakan selama dua hingga tiga hari lalu. “Kami berharap berpindah yang (jalan yang) ditutup. Tidak (tutup) terus menerus. Supaya memberi ruang agar mereka bisa jualan,” terangnya.

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti (HS) mengatakan akan mengikuti Intruksi Mendagri maupun Ingub dengan perpanjangan PPKM Level 4 tersebut. Dengan memodifikasi sesuai kriteria wilayah yang dipimpinnya itu. Termasuk obyek vital, layanan-layanan bersifat esensial bisa dibuka berdasarkan kriteria tertentu. “Intinya kami tetap mematuhi kriteria PPKM level 4 dengan memodifikasi kondisi yang ada di wilayah,” katanya usai deklarasi merdeka vaksin pada 17 Agustus di Kantor Kemantren Mergangsan.

Aturan ini juga harus ditaati oleh pedagang lesehan yang buka pada malam hari di Malioboro dengan mempertimbangkan pelayanan. Mengingat, pukul 21.00 seluruh kegiatan ekonomi harus sudah berhenti. Meskipun, sebelumnya paguyuban pedagang lesehan malioboro (PPLM) sudah menyurati kedua pimpinan wilayah salah satunya Wali Kota Jogja untuk meminta toleransi agar bisa beraktifitas hingga pukul 23.00. “Itu kan lesehan buka malam to, belum ada yang beli sudah harus tutup, bisa dialihkan dulu berjualan secara online,” pesannya.

Sementara Anggota PKL Koperasi Tri Darma Malioboro, Tugiyem mengatakan, selama 25 hari telah menutup lapaknya. Mulai keluar untuk membuka lapaknya kemarin. Namun, memang tidak ditampik kondisi yang masih sepi tidak ada transaksi sama sekali dalam sehari itu. Lansia 67 tahun itu keluar sekedar untuk menghirup suasana ketimbang berada di rumah. Pun dipersiapkan untuk membersihkan dagangannya yang tampak berdebu. “Ini buka hanya untuk bersih-bersih dagangan yang berdebu,” katanya.

Selama berhenti tidak berjualan ia nol pendapatan. Untuk kehidupan sehari-harinya itu ia mengandalkan dari uang tabungan yang dikumpulkan sebagian dari jualan sebelum-sebelumnya. “Kalau musim pandemi ini tidak terlalu banyak (pemasukan) yang jelas bisa buat makan bisa. Tapi kalau yang sekarang belum tentu karena belum ada tamu,” tambahnya yang menyebut siap mengikuti ketentuan operasional dengan tutup pukul 21.00. (kur/wia)

Jogja Utama