RADAR JOGJA –  Bercocok tanam dapat dipilih sebagai salah satu terapi okupasi. Perawatan khusus untuk seseorang yang mengalami gangguan kesehatan tertentu. Misalnya bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Untuk mengisi waktu senggang sekaligus berkegiatan aman kala pandemi.

Terapi okupasi melalui cocok tanam salah satunya diterapkan Heni Langkono Wanti. Perempuan berhijab ini memiliki anak ABK dengan slow learner. Namun, anak Heni sangat aktif. Ternyata dengan bercocok tanam, anak Heni menjadi lebih tenang. “Saya senang sekali. Bercocok tanam ternyata sangat baik untuk ABK. Terutama anak saya yang orangnya aktif, biar terarahkan,” sebut Heni ditemui Radar Jogja saat sedang memperhatikan anaknya menjalani terapi kemarin (6/7).

Diakui Heni, anaknya mudah merasa bosan. Terlebih penerapan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat memaksa masyarakat untuk tetap berdiam diri di rumah. “Kebetulan teman saya punya tempat wisata berbasis pertanian. Jadi dia mengajak anak saya untuk mengembangkan terapi okupasi ini,” bebernya.

Menurutnya, bercocok tanam memberi ruang bagi ABK untuk mengenal lingkungan sekaligus kemandirian. Terlebih saat pandemi banyak anak yang jenuh di rumah. Sementara berisiko untuk melakukan aktivitas sosialisasi. “Jadi dengan seperti ini mereka ada kesibukan di rumah. Dia asik, orang tua jadi nggak uring-uringan dengan anak yang jenuh,” ujarnya.

Heni pun turut berbangga, anaknya mengerti proses cara menanam labu. Mulai pembibitan sampai menyiangi tanaman labu yang disemainya. “Diawasi tiap hari, jadi dia punya tanggung jawab untuk melihat tanamannya seperti apa. Untuk menyiangi tanaman sendiri juga bisa,” paparnya.

Pemilik Dewani Agrowisata, Dian Heningtyas Noviani menuturkan sudah beberapa kali memberikan pelatihan okupasi bagi ABK. Umumnya, pelatihan bercocok tanam yang akan dijalani oleh ABK adalah bercocok tanam tumbuhan dengan rentan usia pendek. “Yang termudah memang menanam pakcoy, sawi, dan selada. Karena tanaman jenis itu berusia pendek, satu bulan bisa panen. Mereka yang biasa tergantung dengan orang tua dengan ini mereka bisa belajar mandiri,” tandasnya. (fat/bah)

Jogja Utama