RADAR JOGJA – Tak ingin krisis oksigen medis juga terjadi di wilayahnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul ingin bisa memproduksi oksigen sendiri. Supaya wilayah Bantul tak lagi mengandalkan kiriman oksigen dari suplier. Bagaimana caranya?

Selain bed dan tempat isolasi, keberadaan oksigen medis menjadi barang mahal di masa pandemi ini. Saat masih mengandalkan pasokan dari luar daerah, kebutuhan yang tiba-tiba naik sulit diantisipasi. Hal itu yang menjadi perhatian Pemkab Bantul. Dengan mulai pengadaan instalasi generator oksigen.
“Kami baru melakukan pengadaan instalasi generator oksigen, doain secepatnya,” ujar Humas RSUD Panembahan Senopati Siti Rahayuningsih dihubungi Radar Jogja kemarin (7/7).

Mengutip pernyataan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, Siti menyebut, instalasi generator oksigen ditargetkan siap dalam waktu satu bulan. Sehingga pada bulan depan, RSUD Panembahan Senopati dapat memproduksi oksigen secara mandiri. ‘Semoga dalam waktu dekat sudah siap dan bisa produksi oksigen sendiri,” ucapnya.

Selama ini RSUD Panembahan Senopati hanya mengandalkan kiriman dari distributor. Siti tidak menyebut dengan pasti, sejak kapan penerimaan oksigen di RS-nya berkurang. Namun, jumlah pengurangan dinilai cukup signifikan. “Sekarang susah, kami bisa rutin mendapat pengiriman oksigen dua sampai tiga kali seminggu tapi jumlahnya sedikit,” bebernya.

RSUD Panembahan Senopati biasanya menerima sekitar 1.600 sampai 2.000 galon oksigen cair. Namun saat ini, RS hanya menerima 1.000 galon tiap pasokan. Jumlah tersebut pun dinilai minim. 1.000 galon oksigen kadang cuma cukup sehari. “Kami masih menunggu pasokan. Kalau sudah ready (instalasi generator oksigen, Red) InsyaAllah kami punya back up untuk produksi oksigen sendiri,” paparnya.

Pengadaan instalasi generator oksigen oleh Pemkab Bantul turut dibenarkan Kepala Seksi Kemitraan dan Plt Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul dokter Budi Nur Rokhmah. RSUD Panembahan Senopati diakuinya sudah pesan alat produksi oksigen. “Supaya bisa memproduksi sendiri,” ungkapnya.

Alat mampu menangkap oksigen di udara bebas meski kadarnya hanya 22 persen. Selanjutnya, zat selain oksigen akan dibuang. “RS PKU Muhammadiyah Bantul juga rencana beli,” sebutnya.

Keberadaan instalasi generator oksigen diharapkan mampu menangani kelangkaan oksigen. Sebab selama ini Pemkab Bantul mengandalkan distributor dari Kendal, Jawa Tengah. Distribusi macet, setelah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah mengambil kebijakan untuk menghentikan pasokan oksigen ke luar wilayahnya. “Ganjar Pranowo dawuh (menginstruksikan), pokoknya pasokan (oksigen, Red) utamakan Jawa Tengah. Ya yang luar Jawa Tengah kan jadi tersendat,” jelasnya.

Di sisi lain, ketersediaan oksigen bagi pasien dengan penanganan intensif jadi terbatas. ini berpengaruh pada penanganan pasien darurat, baik dengan maupun non-Covid-19. Khusus dalam penanganan Covid-19, selter Pemkab Bantul pernah sampai kehabisan stok. Stok di rumah sakit tidak kosong, tapi terbatas. Ini bikin deg-degan, tandasnya. (fat/pra)

Jogja Utama