RADAR JOGJA – UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya melakukan pembersihan pemotongan rumput alun-alun utara (Altar) sejak Jumat (28/5) lalu. Pemotongan rumput dilakukan secara bertahap sebagai tindak lanjut arahan Keraton Jogja. Di antaranya mengembalikan Altar kembali seperti zaman dulu. Berpasir.

Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya, Ekwanto mengatakan, pembersihan kawasan Gumaton (Tugu, Malioboro, Keraton) menjadi ketugasannya saat ini. Pemotongan rumput itu sudah dikoordinasikan baik dari pemerintah provinsi maupun Keraton Jogja. “Ini sebagai arahan dari Keraton juga, selama tidak ada arahan kami tidak berani (melakukan bersih-bersih),” katanya kepada Radar Jogja Senin (31/5).

Pemotongan rumput itu dilakukan secara bertahap mengngingat luasnya lahan alun-alun ttara itu yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu sekejap. Sehingga, eksekusinya dimulai dari pohon beringin timur dari arah keraton ke barat. Tidak bisa dipastikan berapa berat rumput yang dipotong tersebut. Namun, UPT telah mengerahkan truk pengangkut sampah sebanyak enam kali gabungan dengan truk kontainer dari Malioboro sejak Jumat lalu hingga Senin (31/5). “Harapan kami dengan kegiatan pemotongan rumput, nanti alun-alun akan kembali seperti zaman dulu terlihat pasirnya saja,” tambahnya.

Ekwanto menjelaskan bersih-berisih pemotongan rumput itu juga sebagai tindak lanjut pasca-kebakaran lahan di Altar pekan lalu karena dugaan puntung rokok yang dibuang sembarangan sehingga mengakibatkan api menjalar di rumput-rumput tinggi dan kering di sana. “Iya mungkin seperti itu bisa jadi, karena kami hanya melaksanakan arahan saja,” ujarnya.

Sebelumnya,  Dalem Golongan Protokol Keraton Jogja, Kanjeng Mas Tumenggung Iswanto Puroprojowinoto mengatakan kondisi rumput kering tersebut karena faktor pemberian cairan obat penyemprot untuk rumput dalam rangka  untuk pemeliharaan. Sebab, para  Dalem tidak diperkenankan memotong atau mencabut rumput ilalang. “Dan karena rumput ini kan tidak boleh dipotong atau dicabut sehingga dengan disemprot ini kemudian trus kering,” jelasnya. (wia/pra)

Jogja Utama