RADAR JOGJA – Kajian akademis dalam rangka penutupan perlintasan sebidang di bawah Jembatan Layang Lempuyangan, masih terus digodok Dinas Perhubungan Kota Jogja. Aspek lain masih dipertimbangkan, termasuk dampak dari penutupan perlintasan demi kepentingan bersama.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja Agus Arif Nugroho mengatakan, jalinan komunikasi dan koordinasi masih diupayakan dari berbagai lintas sektor, termasuk masyarakat itu sendiri. Diupayakan dampak penutupan ini tidak menimbulkan antarpihak yang merasa saling dirugikan.

“Kuncinya adalah koordinasi tidak masing-masing kepentingan, harus melihat aspek yang lain. Supaya bisa lebih harmonis,” kata Agus. Ia tidak menampik program pemerintah pusat itu diyakini akan membawa keselamatan tidak hanya dari sisi perlintasan sebidang untuk meminimalisasi kecelakaan, melainkan melancarkan jalur kereta api serta meningkatkan keselamatan perjalanan penumpang.

Namun dikatakan, kondisi perlintasan kereta api Lempuyangan yang berada di tengah kota itu memiliki kepadatan lalu lintas tinggi. Berbeda dengan lingkup kabupaten yang kepadatan lalu lintasnya tidak begitu tinggi. “Makanya kita berupaya bagaimana solusi terbaik, kita baru ngobrol. Kalau kepentingan Dishub ya buntu jalan di bawahnya. Masalahnya di situ dari sisi lalu lintas,” ujarnya.

Meski studi akademis sudah pernah dilakukan sebelumnya dengan mengatur skenario lalu lintas ketika perlintasan sebidang ditutup, tetapi tidak serta merta studi yang dilakukan juga termasuk bagaimana tetap harus memperhatikan banyak aspek, seperti sosial ekonomi masyarakat. Dan sampai sejauh ini masih menjadi pekerjaan rumah untuk disinergikan kepada lintas stakeholder agar keputusan itu berjalan harmonis. “Ya, agar semuanya happy lah, jadi kepentingan-kepentingan itu bisa terwadahi,” jelasnya.

Menurutnya, perlintasan kereta api di Kota Jogja yang beberapa ruas jalannya bersentuhan dengan jalan kereta api, saat ini masih beroperasi. Selain Lempuyangan, ada perlintasan kereta api Baciro (Gondokusuman), Jalan Timoho (Gondokusuman), Jalan HOS Cokroaminoto (Tegalrejo). Tetapi, yang sudah memiliki fly over baru di perlintasan Lempuyangan. Rencana penutupan sendiri sudah ramai sejak 2017 lalu. Bersamaan dengan penutupan ruas jalan di bawah jembatan layang Janti.

“Kita juga sedang menata sistem keuangan dengan jumlah sedikit dapat melakukan langkah-langkah yang lebih strategis agar semuanya bisa tercapai tujuan. Karena bangun fly over dan sebagainya itu juga perlu duit,” tambahnya.

Sebelumnya, Kabid Keselamatan dan Teknologi Transportasi Dinas Perhubungan DIJ Didit Suranto mengatakan, perlintasan sebidang merupakan perpotongan antara jalur kereta api dan jalan yang dibuat sebidang. Banyaknya perlintasan sebidang di sepanjang rel dikarenakan meningkatnya mobilitas masyarakat pengguna kendaraan yang harus melintas atau berpotongan langsung dengan jalan kereta api. “Ini juga menjadikan perlintasan sebidang sebagai salah satu titik rawan kecelakaan,” katanya.

Didit menjelaskan, karena frekuensi terjadinya kecelakaan tinggi maka dalam aturan undang-undang diperbolehkan ada perlintasan sebidang dalam kondisi yang sangat ketergantungan dengan geografi jalan dan sifatnya sementara serta perlintasan masing tunggal.

“Selama ini kriteria tersebut sudah tidak terpenuhi. Sudah ganda dan ada fly over. Maka sebetulnya secara UU harus kita tutup demi keselamatan,” jabarnya. (wia/laz)

Jogja Utama