RADAR JOGJA – Libur lebaran tahun ini menjadi masa paceklik bagi penjual oleh-oleh di Kota Jogja. Tak banyak pemudik, termasuk wisatawan yang datang berkunjung.

Termasuk di sentra gudeg Wijilan. Jika pada lebaran dan liburan, sebelum masa pandemi, bisa menimbulkan kemacetan kini nyaris tanpa pengunjung. Pemilik Gudeg Bu Lies Wijilan Elina mengaku, sekarang pengunjung sepi sekali. Biasanya, ketika lebaran dan arus balik Elina menambah pegawainya hingga sepuluh orang untuk melayani pembeli. “Tidak seperti biasanya meskipun hari raya dan libur nasional, biasanya kalau hari raya seperti ini warung ramai dari pagi sampai sore,” keluhnya Selasa (18/5).

Beruntungnya, warung Gudeg Bu Lies tidak hanya sekedar menjual gudeg tradisional di dalam kendil dan besek saja. Namun juga sudah menyediakan kemasan dalam bentuk kaleng. “Alhamdulilah meskipun pengunjung sepi tapi masih ada sedikit pemasukan sedikit-sedikit dari penjualan gudeg kemasan,” ungkapnya.

Kondisi yang sama juga dirasakan di pusat industri pembuatan bakpia Pathok di Ngampilan, Jogja. Bahkan hanya beberapa toko saja yang kini masih membuka usahanya. Marketing Bakpia Pathok 25 Dika mengatakan, perbandingan penjualan dan pengunjung antara sebelum pandemi dan pandemi sangat berbeda jauh, “Penurunan pendapatan hingga 80 persen, rasanya masih sama saja dengan awal adanya pandemi Covid, sepi,” ungkapnya.

Saking sepinya, manajemen hingga memberlakukan sistem shifting kepada karyawan. Terutama bagian produksi kususnya. Menyesuaikan dengan jumlah pengunjung. Itu karena bakpia yang diproduksi tanpa menggunakan pengawet. Saat tak banyak pengunjung, produksi pun dikurangi. “Ketika kunjungan turun maka pembuatan bakpia ikut menurun menyesuaikan,” jelasnya. (cr1/pra)

Jogja Utama