JOGJA RADAR JOGJA – Keraton Jogja kembali menggelar tradisi perayaan Hari Raya Idul Fitri dengan cara berbeda. Masih adanya pandemi Covid-19, Hajad Dalem Garebeg Syawal yang biasanya ditandai dengan arak-arakan gunungan di hari pertama Lebaran kini ditiadakan. Apa gantinya?

Beberapa abdi dalem Keraton Jogja mendatangi Bangsal Srimanganti secara bergantian Kamis (13/5). Ada yang datang secara personal ada pula sebagai perwakilan. Dengan pakaian peranakan lengkap mereka akan mengambil uba rampe dari Raja Keraton Jogja.

Sama dengan Garebeg Sawal maupun Mulud tahun lalu, kali ini Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 memberikan sedekah raja melalui uba rampe dalam bentuk rengginang. Sebagian kecil uba rampe juga dikirimkan ke Kompleks Kepatihan dan Pura Pakualaman.

Rengginang tersebut merupakan pengganti gunungan. Yang biasanya berupa hasil bumi.”Gunungan kali ini tidak dirangkai dalam bentuk gunung tapi hanya ditancep di gedog. Ubo rampe berupa hasil bumi diwujudkan dalam bentuk rengginang yang dirangkai seperti bunga,” terang Wakil Pengageng Parintah Ageng yang membidangi Sumber Daya Manusia (SDM), Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudhahadiningrat kemarin (13/5).

Pangeran dengan nama muda RM Noeryanto itu menyebut, keputusan untuk meniadakan gunungan diambil karena prosesi ini selalu menimbulkan kerumunan. Karena warga biasa merayah gunungan beramai-ramai sehingga dapat meningkatkan risiko penularan Covid-19. Ribuan tusuk rengginang, lanjutnya, hanya dibagikan kepada para abdi dalem Keraton. Selain itu juga ke Penghageng dan abdi dalem Kadipaten Pakualaman. Sementara di Kepatihan diperuntukkan ke para pejabat Pemprov DIJ. “Jadi lebih baik ditiadakan dan hanya dibagi kepada abdi dalem,” terangnya.

Romo Noer, sapaanya, menambahkan, Garebeg adalah sedekah raja. Ini disimbolkan sedekah raja tapi yang diberikan hanya abdi dalem. Tapi untuk seluruh masyarakat. Setelah dibagikan, gunungan kemudian dirayah oleh warga yang hadir. “Sekarang upacara hanya diadakan di dalam cepuri keraton, tapi tetap kirim ke Pakulaman dan Kepatihan. Sedangkan di Masjid Gedhe Kauman tidak ada karena menghindari kerumunan,” katanya.

Selain gunungan, tradisi pengikutnya seperti Ngabekten juga kembali ditiadakan karena rawan menimbulkan kerumunan masa. Sebelum pandemi, biasanya selama dua hari Keraton Jogja menggelar Ngabekten para abdi dalem kepada raja.

Meski mengalami banyak penyesuaian, penyelenggaraan tradisi tersebut tidak mengurangi esensi yang terkandung di dalamnya. Menurut Romo Noer, makna dalam tradisi adat Garebeg Syawal ini adalah ungkapan syukur atas pemberian dari yang maha kuasa serta doa mengharapkan keselamatan dan kesejahteraan Keraton Jogja.

Sebelum dimulai upacara, jelas dia, pada abdi dalem dan kyai mendoakan. “Mohon bimbingan pada Allah supaya keraton tetap diberikan kesejahteraan, keamanan, dan tetap guyub rukun. Supaya semua itu bisa berjalan dengan baik,” paparnya. (kur/pra)

Jogja Utama