RADAR JOGJA – Dua ekor orangutan hasil rehabilitasi di Widlife Rescue Center (WRC) Jogjakarta dilepas liarkan kembali ke alam pada Sabtu (10/4) Senin. Dua primata bernama Mungil dan Ucokwati tersebut dikembalikan ke habitatnya di hutan Berau, Kalimantan Timur.

Manajer WRC Jogjakarta, Reza Dwi Kurniawan mengatakan, kedua orang utan tersebut dilepas liarkan kembali ke alam setelah sebelumnya menjalani rehabilitasi dan pengecekan kesehatan di Kulonprogo. Dia menjelaskan bahwa Mungil dan Ucokwati merupakan dua primata yang dievakuasi dari BKSDA Jawa Tengah pada 2011 silam.

Perjalanan kedua primata tersebut untuk kembali ke alam dimulai sejak Kamis (8/4) lalu. Dimana, Mungil dan Ucokwati diantarkan dengan pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Balikpapan.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Berau melalui perjalanan darat. Setelah sampai, keduanya kemudian dilakukan observasi dan akan dilanjutkan pelepas liaran di hutan Berau yang merupakan habitat asli orang utan.

Saat ini, lanjut Reza, WRC Jogjakarta tengah merehabilitasi 145 satwa liar termasuk berbagai jenis primata seperti orang utan, siamang, owa dan masih banyak jenis lainnya. Diakuinya pandemi Covid-19 memang berdampak pada pusat rehabilitasi WRC Jogjakarta saat ini.

“Namun hal itu tidak membuat kami untuk menyerah untuk menyelamatkan satwa liar. Serta mengantarkan satwa-satwa untuk kembali ke rumahnya,” ujarnya, Senin (12/4).

Kepala Seksi Konservasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogjakarta, Untung Supripto menyampaikan, bahwa saat ini masih tersisa lima individu yang direhabilitasi di WRC Jogjakarta. Pelepas liaran Mungil dan Ucokwati merupakan translokasi pertama orangtuan dari WRC ke Kalimantan Timur.

Dia pun mengapresiasi terkait upaya translokasi yang dilakukan oleh WRC. Harapannya semua satwa yang kini direhabilitasi bisa bernasib sama dengan Mungil dan Ucok. “Kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu translokasi orangutan dari BKSDA Jogjakarta ke BKSDA Kaltim ini,” imbuh Untung.

Sementara Plt Kepala BKSD Kalimantan Timur, Nur Patria Kurniawan menyampaikan bahwa upaya pelepas liaran kembali satwa ke habitatnya merupakan tahapan penting dalam rehabilitasi satwa. ”Ini merupakan upaya untuk mewujudkan kelestarian orangutan Kalimantan di habitat alaminya,” ujar Nur. (inu/bah)

Jogja Utama