RADAR JOGJA – Jika melewati Ringroad Timur, Manding, Trirenggo, Bantul, akan dijumpai pemandangan unik. Pagar-pagar bambu berwarna gelap seolah menyekat hamparan sawah. Dibariskan miring untuk dijemur agar kering, sebelum dikirim ke luar benua. Pagar-pagar bambu ini jadi salah satu komoditas incaran di Australia dan Eropa.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Pemilik usaha pagar bambu ini adalah perempuan bernama lengkap Sudartik Widarso. Memakai kaus berwarna merah dan masker warna nila, perempuan 50 tahun ini berkisah. Sekitar enam atau tujuh tahun lalu, dia mendirikan Bamboo Craft Indonesia. Memanfaatkan salah satu potensi sumber daya alam yang berlimpah di Bumi Projotamansari, yaitu bambu. Selain itu, bambu merupakan material ramah lingkungan. Bambu pun dapat dipanen tiap 2-3 tahun. Berbeda dengan kayu yang membutuhkan waktu sampai puluhan tahun.

Dibantu lima orang karyawan, Dartik memulai usaha dengan modal pribadi. “Kami mulai usaha ini dari zero buyer,” tegas Dartik, sapaan akrabnya, kepada Radar Jogja yang menemui di kantornya, Senin (12/4). Tidak heran, pada awal mendirikan usaha, pagar bambu karya Dartik sempat menumpuk. Tidak terjual lantaran tidak adanya pembeli.

Ibu satu putri ini mengakui, pemasaran menjadi permasalahan utama dalam mengembangkan usaha. Terlebih ia menyasar pasar internasional. Beberapa cara ditempuh untuk memperkenalkan produk Bamboo Craft Indonesia. “Kami kesusahan mencari buyer. Kami kemudian mengatasinya dengan melakukan iklan. Setelah itu, baru menerima beberapa buyer,” bebernya bersemangat.
Permintaan mulai berdatang dari pasar Australia, utamanya dari Melbourne.

Pagar menggunakan bambu hitam atau pring wulung menjadi yang paling diminati. Hingga melabuhkan sekitar dua kontainer per bulan di tahun pertama. Beriringnya waktu, usaha pagar bambu yang digeluti pun bertumbuh. “Sekarang kami rutin mengirim dua sampai tiga kontainer per minggu,” ungkapnya.

Bukan cuma itu, pemasaran produk Dartik pun merambah Benua Eropa. Tiga negara utama sasaran pemasarannya adalah Jerman, Prancis, dan Belanda. Tapi berbeda dengan Australia, pagar yang diminati di Eropa adalah yang berbahan bambu kuning atau halus. “Sebenarnya pasar kami sudah luas. Tapi kalau bisa lebih, kenapa tidak,” ucapnya kemudian tertawa.

Saat ini Dartik dibantu sekitar 80 karyawan. Di mana para karyawan itu merupakan warga sekitar lingkungan usahanya. Mengucap syukur, ia tidak merumahkan satu orang pun karyawannya selama pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah selama pandemi kami tetap produksi. Karyawan tetap butuh sesuap nasi. Cuma saat ini kami memiliki keterbatasan gudang,” cetusnya.
Keterbatasan itu ternyata diakibatkan oleh tertundanya pengiriman. Beberapa buyer meminta penundaan, karena biaya pengiriman sedang mengalami kenaikan sampai empat kali lipat. “Jadi produk banyak yang tertahan sehingga kami harus menyediakan gudang,” jelasnya, kemudian melanjutkan dengan nada riang, “Tapi ada juga buyer yang bersedia membayar lebih,” katanya. (laz)

Jogja Utama