RADAR JOGJA – Pemkab Sleman mengumumkan, salat tarawih di bulan suci Ramadan dapat dilaksanakan di masjid. Asal bukan termasuk wilayah zona merah Covid-19. Pelaksanaan sholat tarawih juga harus sesuai protokol kesehatan (prokes).
“Zona kuning maupun oranye masih diperbolehkan,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Sleman Joko Hastaryo dalam jumpa pers di Pendopo Parasamya Pemkab Sleman, Selasa(6/4).Zona merah yang dimaksud, dalam satu RT terdapat lima rumah lebih yang terpapar Covid-19. Kemudian zona kuning apabila terdapat satu sampai dua rumah yang terpapar Covid-19. Dan zona oren, tiga hingga empat rumah terpapar Covid-19. “Ini berdasarkan kebijakan baru yang nantinya akan dikeluarkan dalam bentuk surat edaran Bupati Sleman,” lanjutnya.
Sehingga dalam hal ini pihaknya akan bekerjasama dengan satgas Kapanewon maupun satgas desa dalam pemantauan tersebut. Dengan demikian diharapkan tidak timbul persebaran Covid-19. “Agar tidak terjadi klaster,” katanya.
Adapaun persyaratan prokes, jumlah jamaah tarawih dibatasi maksimal 50 persen dari kapasitas masjid. Jamaah juga harus membawa mukena dan sajadah sendiri. Saat salat, memakai masker dan tetap menjaga jarak. Ibadah tarawih dijalankan lebih singkat. Sesuai panduan Instruksi Surat Edaran (SE) Kementrian Agama (Kemenag) nomor 3 tahun 2021, tentang ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 hijriah, pengajian, ceramah, kultum paling lama durasi 15 menit.”Zona merah sebaiknya tidak dibuka (masjid, red) untuk tarawih dulu,” katanya.
Kasubag TU Kantor Kementrian Agama Kabupaten Sleman Tulus Damadi menambahkan, berdasarkan petunjuk teknis (juknis), pelaksanaan sholat tarawih, tetap mengutamakan prokes. Selain yang sudah disebutkan di atas, pengurus atau pengelola masjid wajib menyediakan fasiltas prokes. Seperti menyediakan thermogun, tempat cuci tangan, juga menyediakan petugas khusus untuk selalu mengingatkan prokes dan desinfeksi.
Karena Masjid Agung Sleman menjadi masjid ikonik Sleman, maka menjadi patokan pelaksanaan ibadah bulan suci Ramadan. Namun, Tulus menegaskan, ceramah bada isya khusus di masjid ini ditiadakan. Sebab, saat isya tak jarang jamaah merupakan pengguna jalan yang tidak diketahui riwayat perjalanannya.”Kalau kultum subuh di Masjid Agung diperbolehkan tetap pada durasi maksimal 15 menit,” katanya. Sebab, jamaah ketika subuh didominasi dari warga sekitar.
Kebijakan ini dilakukan demi keamanan dan kenyamanan bersama. Sebagai upaya memutus mata rantai Pandemi Covid-19. (mel/pra)

Jogja Utama