RADAR JOGJA – Razia serupa juga digelar Petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Jogjakarta di Wonosari. Bersama tim gabungan melakukan razia dalam rangka mengantisipasi peredaran narkoba. Hasil operasi, petugas menemukan sejumlah barang yang dianggap tak boleh berada di dalam lapas.
Kepala Lapas Kelas II B Jogjakarta, Ade Agustina mengatakan, kegiatan penggeledahan atau razia sudah menjadi agenda rutin yang dilakukan di kamar hunian narapidana. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan dan mempersempit celah peredaran narkoba di dalam kamar hunian. Hasilnya ditemukan seperti peniti, tali rafia, berpotensi digunakan untuk menyakiti diri sendiri, karena keadaan emosinya yang tidak stabil.“Kami juga mendapati cermin yang bisa digunakan untuk kekerasan terhadap teman,” kata Ade Agustina usai razia Selasa (6/4).
Selain itu pihaknya juga menemukan obat-obatan biasa yang digunakan untuk mengobati keluhan-keluhan warga binaan. Obat-obatan disita guna mengantisipasi konsumsi tanpa resep. ”Evaluasi dari kegiatan ini, perlu adanya pengawasan,” tegasnya.
Pihaknya juga menyita baterai, pembersih lantai karena bisa membuat lambung korosif jika dikonsumsi dan beberapa kawat. Sedangkan narkotika tidak ada. Dia hanya menegaskan, semua barang yang disita masuk kategori terlarang disimpan dalam hunian narapidana. Terkait dari mana warga binaan mendapatkan barang-barang tersebut, Ade mengaku masih mendalami.“Kami baru saja melakukan pindahan, bukan berarti tidak tertib juga. Tetapi teman-teman pengamanan juga adaptasi terhadap pengaturan pengamanan tapi itulah warga binaan,” terangnya.
Dikatakan, untuk temuan baterai sebenarnya dibolehkan, tapi jika habis baru boleh beli dan tidak boleh menyimpan. Lebih jauh dikatakan, total ada 114 warga binaan, dengan rincian empat orang masih berada di kepolisian DIJ dan sisanya 110 di dalam lapas.
Sementara itu, seorang narapidana sebut saja mpok mengaku tidak lama lagi bebas. Perempuan yang terjerat kasus narkoba ditangkap karena menjadi kurir. Selama menjadi warga binaan mengaku banyak berubah dan bisa berkarya. “Usai bebas saya akan ke jakarta. Saya kapok berurusan dengan narkoba,” kata Mpok. (gun/pra)

Jogja Utama