RADAR JOGJA – Kerinduan untuk bisa sekolah lagi setelah setahun daring akibat pandemi Covid-19, akhirnya terpenuhi para siswa kelas 9. Mereka kemarin (5/4) mengikuti ujian Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD) secara tatap muka di sekolah.

Sabrina Zakiatul M, siswa SMPN 4 Jogja yang menjadi satu dari 164 peserta ASPD secara tatap muka di sekolah, merasakan kegembiraan itu. Meski lama tak belajar di sekolah secara tatap muka kepada guru, tidak menjadi kesulitan dalam mengerjakan soal yang diujikan pada hari pertama itu yakni Bahasa Indonesia.

“Kesulitan cuma ada beberapa soal yang menjebak dengan jawabannya yang mirip-mirip. Tapi kemarin sudah dikasih latihan soal kisi-kisinya,” kata Sabrina kepada Radar Jogja usai pelaksanaan ASPD hari pertama.

Ia mengaku senang dan menyambut baik adanya pelaksanaan ujian untuk mengukur ketercapaian KBM siswa selama pandemi secara tatap muka. Ini menjadikan semangat belajarnya semakin tinggi, karena bisa mengetahui persaingan belajar antarsiswa di sekolah.

“Iya, senang sekali akhirnya bisa merasakan ujian lagi di sekolah. Karena kalau di rumah tidak bisa mengukur kemampuan kita seberapa dibandingkan dengan teman lain,” ujarnya.

Meski ada sedikit kekhawatiran adanya paparan,  dengan penegakan protokol kesehatan ketat dari pihak sekolah menjadikannya lebih aman dan nyaman. Perbedaannya sangat signifikan ketika mengerjakan ujian di sekolah saat pandemi dan di luar pandemi.

Saat pandemi, teknis pelaksanaannya sangat ketat dengan prokes yang mengikuti.  “Berbeda banget ya, kita sekarang harus pakai masker, sarung tangan saat mengerjakaan ujian. Terus saat ujian biasanya bisa bawa alat tulis lebih, tapi ini hanya satu bolpoin saja,” jelasnya.

Selain itu, biasanya sebelum ujian dimulai bisa berdiskusi dulu pindah tempat duduk dengan temannya. Kali ini tidak bisa karena ketika sudah di dalam ruangan ujian, minim komunikasi  dan dilarang berkerumun. “Kita juga harus bawa sendiri masker cadangan dan hand sanitizer,” terangnya.

Menurutnya, ujian maupun kegiatan belajar mengajar (KBM)  yang digelar secara tatap muka bisa memberikan kepuasan terhadap hasil nilai atau prestasi yang diraihnya. Selama KBM di rumah, kepuasan nilai tidak bisa terukur karena tidak bisa saling mengetahui kompetitor belajarnya.

“Jadi merasa kasihan yang sudah belajar beneran dan dapat nilai bagus. Karena terkadang ada yang dapat nilai lebih bagus, tapi nggak murni belajar sendiri. Kadang suka miris dengan enaknya tanya jawaban ke temannya lewat story. Padahal kita belajar sendiri,” tandasnya.

Terpisah, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja Dedi Budiono mengatakan, ASPD jenjang SMP yang digelar mulai kemarin (5/4) merupakan kali pertama peserta didik dalam satu kelas melakukan tatap muka di sekolah. Bahkan menyebut pihak sekolah serius dalam menerapkan prokes.

“Saya lebih menyoroti ke prokes bahwa pantauan kami masing-masing sekolah luar biasa. Sangat serius dan di atas standar untuk penerapan prokesnya,” kata Dedi.

Ia menjelaskan sejak dari kedatangan siswa, aturan transit menunggu ujian hingga kepulangan, tidak pernah lepas dari prokes. Kesungguhan penerapan prokes ini diakui bukan persoalan yang mudah. Sebab, di belakang layar petugas harus bekerja ekstra untuk menghindarkan potensi kerumunan siswa. “Kami berharap sekolah tetap konsisten dan tidak lengah, karena ASPD masih akan digelar hingga Kamis (8/4),” ujarnya.

Ditambahkan, ASPD memiliki tujuan yang cukup penting untuk merekam, memetakan hingga memotret hasil pembelajaran jarak jauh atau daring yang sudah digelar selama satu tahun belakangan.

“Makanya memang harus digelar secara tatap muka untuk memastikan bahwa soal itu dikerjakan sendiri oleh siswa. Kalau digelar online, kami jadi tidak bisa menjamin soalnya dikerjakan secara mandiri,” katanya.

Selain untuk jenjang SMP, ASPD juga akan digelar bagi siswa kelas 6 jenjang SD. Hanya, teknisnya tidak berbasis komputer, melainkan manual atau berbasis kertas dan pensil, yang akan digelar  24, 25, dan 27 Mei 2021. Di samping memotret hasil pembelajaran daring, ASPD juga akan digunakan untuk seleksi ke jenjang berikutnya. (wia/laz)

Jogja Utama