RADAR JOGJA – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro, yang di DIJ dimodifikasi menjadi pengetatan secara terbatas kegiatan masyarakat (PTKM), tak menyurutkan wisatawan. Buktinya long weekend kali ini, DIJ dipadati kembali wisatawan.

Pantauan Radar Jogja sejak Jumat (2/4), mengawali libur paskah banyak kendaraan pribadi berpelat luar daerah memadati pusat kota. Bus-bus pariwisata juga terpantau terparkir di tempat-tempat khusus parkir maupun hotel-hotel di Kota Jogja.

Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya, Ekwanto mengatakan, kawasan Malioboro menjadi yang paling ramai dituju oleh wisatawan untuk menghabiskan masa libur panjang. Puncaknya terjadi pada akhir pekan Sabtu (3/4), wisatawan memadati kawasan Malioboro seperti nampak normal sebelum pandemi. “Ya ngeri-ngeri sedap, pengunjung banyak kami kerepotan mengurai kerumunan, tapi berkah bagi pedagang,” katanya kemarin (4/4). “Tadi malam memang luar biasa pengunjung Malioboro, kami sampai kewalahan mengurai dari kerumunan yang ada di dalam maupun yang mau masuk.”

Mantan Kepala UPT Malioboro itu menjelaskan, jumlah kunjungan pada malam Minggu (3/4) itu sebanyak 2.014 orang. Sementara, mengawali libur paskah Jumat (2/4) sebanyak 1.608 orang. Jumlah ini diklaim sudah ada peningkatan dibandingkan sebelumnya selama pandemi pengunjung hanya berkisar tidak lebih dari 1.000 orang. Dalam kondisi normal sebelum pandemi kunjungan Malioboro sebanyak dua ribu orang per harinya. “Mungkin orang sudah merasa jenuh,” ujarnya.

Pengunjung yang masuk ke Malioboro kemarin ini dibatasi, tidak serta merta semua pengunjung diloloskan masuk. Sebab, menunggu pengunjung yang ada disetiap zona bisa terurai dahulu. “Jadi tidak langsung masuk harus berhenti dulu baik sisi selatan atau utara. Karena memang kunjungannya luar biasa,” ujarnya.

Pun, batasan pengunjung yang sempat diturunkan hingga 300 orang per zona ini dinormalkan kembali menjadi 500 orang per zona juga karena pertimbangan sudah berlangsungnya proses vaksinasi bagi para pedagang serta unsur pedagang yang sudah lebih tertib dalam menjalankan prokes.

Meskipun, kelompok pelaku wisata di Malioboro itu sudah disuntik vaksin. Tetapi tidak serta merta merasa sudah aman. Karena, dikatakan belum tentu semua pengunjung Malioboro sudah divaksin. Maka, penerapan prokes tetap menjadi senjata utama untuk menjaga agar tidak terjadi paparan Covid-19 secara langsung dari pengunjung. “Terutama pada pedagang yang memiliki kondisi yang rentan,” tambah mantan Lurah Prawirodirjan itu.

Sementara, Koordinator Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo Barat, Bintoro mengatakan dampak dari libur panjang paskah ini penjualan mengalami kenaikan antara 40-50 persen. Otomatis omsetnya per hari juga naik. Rata-rata pengunjung pasar yang potensial masuk ialah dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya. “Alhamdulillah untuk libur panjang ini pengunjung luar kota sangat banyak sekali,” katanya.

Menurut dia, barang dagangan di pasar Beringharjo rata-rata semua jenis dagangan laku dibeli oleh pengunjung yang menggantungkan kunjungannya dari wisatawan luar kota itu. Kebanyakan mereka membeli daster, blush atau atasan, setelan atas bawah, atau cinderamata, serta perlengkapan ibadah seperti mukena. “Dari kami merasa senang, hampir merata semua barang di Beringharjo laku kami sangat bersyukur,” imbuhnya.

Terpisah, pelancong dari Bandung, Basma mengatakan Jogja menjadi tujuan wisata yang tanpa direncana. Momentum libur paskah menjadi waktu yang pas untuk berlibur. Tujuan utamanya yakni mengunjungi sanak saudaranya serta berkunjung ke makam keluarga sebelum puasa Ramadan tiba. “Iya acara intinya adalah nyekar ke makam simbah dan keluarga. Kan mau memasuki puasa, ya sekalian liburan ke Jogja,” katanya.

Selain karena lokasinya yang bisa ditempuh menggunakan jalur darat, Jogja merupakan kota yang memiliki wisata baru kekinian. Ia berangkat dari Bandung Jumat (2/4) bersama empat anggota keluarga lain. Sebelum bersiap jalan, segala sesuatunya telah disiapkan seperti membawa surat hasil swab Antigen yang menunjukkan hasil negatif, serta perlengkapan lain untuk menunjang prokes di perjalanan dan saat berkunjung ke sanak saudaranya. “Ya neggak khawatir yang penting terus jaga protokol aja. Di Jogja saya lihat juga ketat (prokesnya), dan sudah menjalankan program vaksinasi,” katanya. (wia/pra)

Jogja Utama