RADAR JOGJA – Radikalisme dalam beragama kembali menjadi isu yang mengkhawatirkan di Indonesia. Apalagi setelah munculnya beberapa kasus terorisme di berbagai daerah di Tanah Air dalam sepekan terakhir.

Radikalisme dalam beragama itu dipercaya muncul dari ceramah-ceramah yang dinilai bermasalah. Atau memang sengaja diberikan doktrin agar membenci agama atau kelompok masyarakat tertentu.
Salah satu pihak yang dinilai punya peran penting dalam menangkal maupun menyuburkan radikalisme adalah para dai. Untuk itu, Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) DIJ merasa perlu untuk kembali menyatukan visi para dai yang ada di Indonesia, khususnya lagi di DIJ.
Kemarin (4/4) Ikadi DIJ menggelar seminar dengan tema “Peran Dai dalam Deradikalisasi Paham Beragama di Indonesia”. Acara ini digelar di KJ Hotel Jogjakarta dan diikuti tidak kurang 54 dai dari DIJ.

Ketua Dewan Syuro Ikadi Pusat Tulus Musthofa berharap, kesadaran dan pemahaman prinsip moderat masyarakat bisa terus meningkat ke depan. Ia juga ingin membekali para dai dengan prinsip-prinsip tersebut. “Kesadaran kepada dai Ikadi terhadap bahaya sikap radikalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Dikatakan, Islam sendiri adalah agama yang memiliki sifat rahmatan lil aalamin. Artinya Islam harus bisa membawa kedamaian dan kebaikan bukan hanya kepada seluruh umat manusia, tapi kepada seluruh isi alam semesta.
Dalam kesempatan itu, Tulus merasa prihatin dengan adanya beberapa aksi teror yang melanda beberapa daerah di Indonesia dalam sepekan terakhir. Apalagi aksi itu dilakukan dalam situasi negara yang masih darurat akibat pandemi virus korona. “Bangsa kembali diuji dengan adanya aksi-aksi itu,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, dai Ikadi DIJ menyatakan ikrar yang dibacakan bersama dengan sepenuh kesadaran dan pemahaman akan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Poin pertama, selalu menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman yang moderat yang mencerminkan Islam rahmatan lil aalamiin. Kedua, menolak paham radikalisme dan aksi-aksi terorisme yang jelas bertentangan dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Ketiga, bertekad menjaga integrasi bangsa dan terus mengupayakan terbentuknya kehidupan yang rukun dan damai bersama elemen-elemen bangsa lainnya. Dan keempat, berkomitmen membina dan mendampingi masyarakat berdasarkan nilai-nilai keislaman yang moderat dengan kesadaran kebangsaan dan cinta tanah air.

Sementara itu, Kabag Bin Opsnal Dit Binmas Polda DIJ AKBP Ahmad Hanafi yang juga menjadi salah satu narasumber dalam acara itu menyatakan, pihaknya selama ini terus menggandeng para ulama dan dai. Itu akan terus dilakukan, terutama guna mencegah kejadian teror kembali berulang. “Kami melakukan pencegahan, dan ini salah satu caranya,” ujarnya. (kur/laz)

Jogja Utama