RADAR JOGJA – Desa wisata didorong untuk bangkit. Diharapkan menjadi pariwisata alternatif di DIY. Selaras dengan itu Dinas Pariwisata DIY menggelar focus group discussion (FGD) Kemitraan Desa Wisata dan Hotel.
Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo menjelaskan acara itu merupakan program kemitraan tahunan. Lanjutan dari kegiatan one dewi (desa wisata, Red) dan one hotel. Dua tahun lalu, 2019, program ini dinilai sukses meningkatkan kualitas pariwisata.
“Nah, 2021 kami teruskan dan kami perluas. Tidak hanya hotel, tapi juga perguruan tinggi sebagai mitra kami,” ungkap Singgih di sela acara yang diadakan di Desa Wisata Pentingsari, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Rabu (31/3).
Desa wisata menjadi satu sektor yang perlu didorong guna menjawab tren pariwisata di era pandemi Covid-19. Desa wisata lebih dikonsentrasikan pada quality tourism. Sebab, cenderung menghadirkan aktivitas wisata luar ruangan.
“Menonjolkan wisata budaya dan berbasis pengalaman,” kata Singgih.
Dikatakan, ada lebih dari 130 desa wisata se-DIY. Ini merupakan potensi luar biasa bila semua pemangku kepentingan menjalankan perannya. Misalnya, dari sisi perhotelan melakukan pembinaan pada homestay. Dari sisi kuliner dibina asosiasi chef atau Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI). “Itu akan mendorong dari segi kualitas,” ungkap alumnus FH UII ini.
Wisata sehat, lanjut Singgih, perlu ditekankan. Protokol kesehatan, kebersihan, keamanan dan ramah lingkungan (CHSE) juga harus terpenuhi. Sebelum pandemi jumlah kunjungan dalam kelompok besar menjadi patokan. Kini justru kebalikannya. Kelompok kecil yang lebih dikedepankan.
Penggiat wisata kerakyatan UGM Destha Titi Raharjana menilai, desa wisata yang sudah memenuhi (CHSE) menjadi wisata alternatif. Selain tantangan juga menjadi peluang. Mampukah desa wisata menarik wisatawan. Lalu apa yang harus disiapkan desa wisata sebagai penyedia jasa.
“Kendala apa saja harus diidentifikasi. Dari kemitraan industri diharapkan ada terobosan dan sinkronisasi,” harap Destha.
Ke depan desa wisata diharapkan dapat mengurai kepadatan wisata di Malioboro. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi di sektor wisata bisa lebih merata. Di masa pandemi ini, tidak serta merta berani menerima tamu.
“Kondisi ini merupakan momentum pengembangan produk pariwisata,” katanya.
Bersamaan dengan kegiatan tersebut juga diadakan pengukuhan Forum Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) se-DIY. Acara juga dihadiri sejumlah mitra pariwisata. Antara lain Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Assosiation of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) dan kalangan praktisi perguruan tinggi DIY. (mel/kus)

Jogja Utama