RADAR JOGJA – Pemprov DIJ menerima 8.000 dosis vaksin AstraZeneca dari pemerintah pusat Senin (29/3) dini hari lalu. Vaksin tersebut akan diberikan kepada personel TNI-Polri yang bertugas di DIJ.

Ini adalah kali pertama DIJ akan menggunakan vaksin AstraZeneca. Sebelum menggunakan vaksin dari Inggris itu, Pemprov DIJ sempat mendapatkan jatah vaksin CoronaVac produksi Sinovac dari Tiongkok.

Juru Bicara Pemprov DIJ untuk penanganan Covid-19, Berty Murtiningsih menjelaskan, suplai vaksin untuk TNI-Polri di DIJ bukan kali ini saja. Menurut Berty,
Berty ┬áTNI-Polri sudah tiga kali mendapatkan kiriman vaksin. Dua pengiriman sebelumnya adalah vaksin CoronaVac. “Yang AstraZeneca saat ini sekitar 8.000 dosis,” katanya ketika ditemui di sela acara vaksinasi masal ASN dan pelayan publik di Jogja Expo Center, Senin (29/3).

Berty menambahkan, berdasarkan informasi dari Kemenkes, vaksin ini mempunyai KIPI yang lebih banyak tetapi masih dalam kategori ringan. Kendati demikian, Berty juga menegaskan vaksin ini tetap aman lantaran telah mendapatkan izin BPOM. Meski di Sulawesi Utara, Diskes setempat menghentikan sementara vaksinasi dengan AstraZeneca. Karena banyaknya KIPI yang dilaporkan usai vaksinasi. “Vaksin AZ itu dari Kemenkes sudah disampaikan mempunyai efektifitas yang lebih tinggi dari Sinovac. Tetapi memang dia punya kejadian efek samping lebih banyak tapi ringan,” ucapnya.

Dari data Dinkes DIJ, stok vaksin CoronaVac di gudang mencapai 1.700 vial atau 17 ribu dosis. Jumlah tersebut rencananya akan dialokasikan untuk vaksinasi massal kepada guru, pelaku pariwisata, UMKM, hingga lansia. Rencana vaksinasi massal untuk beberapa golongan masyarakat itu rencananya akan dilakukan mulai pekan depan.

Ada tantangan tersendiri yang akan dihadapi dalam proses vaksinasi pada bulan depan. Diketahui mulai pertengahan April nanti sudah memasuki bulan Ramadan.Kepala Dinas Kesehatan DIJ, Pembajun Setyaningastutie merasa yakin pihaknya dapat menyelenggarakan kegiatan vaksinasi dengan lancar. Meski harus ada penyesuaian di sana-sini. “Intinya kami menjaga supaya yang divaksin dan vaksinasinya tetap sehat,” tegas Pembajun.

Lebih lanjut mantan Direktur RSJ Grhasia itu juga menjelaskan beragam penyesuaian yang dimaksud. Seperti menyelenggarakan vaksinasi di pagi atau kalau perlu di malam hari selepas waktu berbuka puasa. (kur/pra)

Jogja Utama