RADAR JOGJA – Sedikitnya dua dari 45 kelurahan di Kota Jogja telah berubah dari zona oranye menjadi zona kuning Covid-19. Salah satu faktornya karena adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Emma Rahmi Aryani mengatakan dua kelurahan di Kota Jogja tersebut yakni Kotabaru dan Gunungketur. Sebelumnya dua kelurahan ini berkategori zona oranye. Menurut dia, Jogja sekarang zona risikonya sudah ada dua kelurahan) jadi zona kuning. “Karena selama ini kita kan hanya risiko sedang, tidak sampai merah,” katanya disela meninjau pelaksanaan Vaksinasi Massal ASN dan Guru di Grha Pandawa Kompleks Balai Kota Jogja Senin (22/3).
Emma menjelaskan salah satu faktor yang menyebabkan dua wilayah itu berubah dari zona oranye dengan resiko sedang menjadi zona kuning resiko rendah salah satunya karena adanya kebijakan PPKM skala mikro. Disamping itu, aktif melakukan pelacakan terhadap adanya kasus warga yang positif. Pelaksanaan tracing dilakukan terhadap 20-30 dari yang memiliki kontak erat, dengan rapid antigen. “Kalau yang hasilnya negatif tetap isolasi mandiri lima hari, yang positif lanjut swab PCR. Jadi nggak langsung PCR,” ujarnya.
Meski, perhitungan atas keberhasilan perubahan zona risiko Covid-19 tersebut bukan mutlak berdasarkan perhitungan kebijakan PPKM mikro tetapi lebih pada berdasar 14 indikator epidemiologi. “Jadi hitungannya ini tetap ilmiah berdasar epidemiologi, setiap minggu kan kita update terus,” jelasnya.
Pun update hingga kemarin, kasus Covid-19 dikatakan berangsur menurun. Hanya ada 10 penyintas yang dirawat di shelter Bener Tegalrejo. Maupun 49 orang warga kota yang dirawat di rumah sakit kota Jogja serta 266 orang menjalani isolasi mandiri. Sedangkan, dari 245 tempat tidur yang ada di rumah sakit untuk perawatan Covid-19, hanya terpakai 94 unit saja. “Di ICU juga kita sediakan 35 bed yang terpakai hanya 18 (bed). Angka kematian juga semakin menurun,” terangnya.
Menurut dia, dengan adanya program vaksinasi ini juga salah satu upaya pemerintah untuk pengendalian kasus Covid-19. Dan memutus mata rantai, setidaknya masyarakat yang telah divaksin sudah memiliki kekebalan tubuh yang kuat. Pun masih beresiko, tidak separah sebelum divaksin. “Meski vaksin jalan, tracing kita juga tetap jalan, kita bantu tiap puskesmas lima tracer. Bahkan sekarang kalau ada yang positif kontak eratnya dilacak sampai 20-30 dicari dan diperiksa supaya tidak menyebar kemana-mana,” imbuhnya. (wia/pra)

Jogja Utama