RADAR JOGJA – Bolu dan batik. Yang satu merupakan makanan dan yang lain biasanya berupa produk fesyen. Tapi di tangan Olivia Ruminda, keduanya disatukan dalam bentuk kue batik khusus. Dia pun tak pelit berbagi ilmu. Seperti apa kisahnya?
Anisa Ningrum, Sleman, Radar Jogja.

Membatik tidak hanya dilakukan di media kain saja. Namun bisa juga di lakukan di makanan seperti Kue Batik Kukus. Tapi untuk makanan, tidak menggunakan media malam saat membatik. Diganti dengan bahan yang bisa dimakan. Dihasilkanlah Kue Batik Kukus.

Kue Batik Kukus adalah brownies kukus dicetak dalam cup. Saat ini memiliki dua varian rasa yaitu varian rasa coklat dan keju. Dengan motif batik kawung dan parang di atasnya. Hasil inovasi Olivia ini ternyata mampu menjadi peluang usaha. Dengan meraih omzet yang fantastis, mencapai Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per bulan selama pandemi.

Kenapa dia bisa berinovasi membuat kue batik? “Karena memang motif batik itu benar-benar unik cantik dilihat kemudian khasnya Jogja ini batik,” tutur owner Dapur OliviaRu Olivia Ruminda kepada Radar Jogja beberapa waktu lalu.
Sayangnya, lanjut dia, penggunaan motif batik saat ini hanya untuk produi fesyen. Seperti baju-baju batik, tas batik, atau kain. “Nah karena di sini mungkin masih belum terlalu booming banget waktu itu akhirnya saya buat brownies batik,” ujar Olivia.

Tidak hanya brownies ataupun bolu gulung saja yang diproduksi dengan motif batik. Namun juga ada produk kue-kue lainnya. Seperti kue kering batik, donat batik, puding batik, dan juga cake batik. Cake batik yaitu kue ulang tahun yang bermotif batik. Usaha rumahan ini cukup laris dibantu dua karyawan. Dalam sehari dapat memproduksi sekitar 10 – 20 box untuk kue batik kukus dan 20 box untuk brownies. Namun semasa pandemi ini dibatasi hanya memproduksi 50 box perhari. Harga kue Dapur Oliviaru cukup terjangkau yaitu mulai dari Rp 45 ribu untuk satu box kue berisi 10 pcs cup brownies kukus batik.

Hingga saat ini Olivia belum memiliki showroom. Untuk produksinya pun dilakukan di rumah. Usaha yang terletak di Perumahan Dalem Maguwo Asri No C1, Demangan, Maguwoharjo, Depok, Sleman. Dia hanya memproduksi sesuai dengan pesanan costumer. Syaratnya harus memesan 1-2 hari sebelumnya. Usahanya masih ditawarkan melalui media sosial. “Selain itu juga melalui teman-teman,” katanya.

Kemampuanya memasak, yang sudah menjadi hobi sedari kecil, kini menjadi peluang usaha setelah ia resign menjadi karyawan salah satu bank pada 2014. Baru sekitar enam tahun, usahanya ini juga sempat terdampak pandemi. Karena para turis tidak akan dateng ke Jogja selama setahun ini dan pariwisata Jogja juga sempat mengalami stuck. Namun Olivia melakukan inovasi dengan membuka kelas memasak. Secara offline. Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Alasannya membuka kelas memasak, juga melihat banyak ibu-ibu muda di Jogja ini yang bosan karena di rumah terus. Tapi saat ingin keluar rumah juga bingung karena takut pandemi. “Nah di situ saya manfaatkan yang tadinnya buka kelas online akhirnya dipertengahan Juli tahun lalu saya buka kelas offline tapi tetap dengan menjaga protokol kesehatan,” ungkapnya.

Ternyata banyak yang antusias mengikuti kelas memasak ini. Kebanyakan mereka adalah pelaku UMKM yang terdampak pandemi lalu memulai usaha baru dengan menjual kue. Olivia juga merasa senang dapat berbagi ilmu yang bermanfaat. Bahkan jika kemudian para peserta didiknya ini melapor jika usahanya makin laris. Dia merasa usahanya tak sia-sia. “Alhamdullilah mereka banyak cerita kalau jualan mereka laku dan laris. Saya sih lebih senang dan bahagia kalau misalnya apa yang saya sharing itu bisa bermanfaat bagi mereka semuanya,” ujar Olivia. (pra)

Jogja Utama