RADAR JOGJA – Sulcata jadi salah satu jenis tortoise atau kura-kura darat yang cukup populer di Indonesia. Karapas kura-kura ini didominasi warna kuning keemasan dengan garis coklat gelap. Berasal dari Afrika dan merupakan spesies kura-kura darat terbesar ketiga di dunia.

Sulcata punya nilai jual tinggi. Untuk ukuran bayi dengan panjang 5-6 sentimeter biasanya dibanderol Rp 1,2 juta hingga Rp 1,4 juta. Dari anakan tersebut yang termahal bisa mencapai Rp 9 juta.

“Kebetulan saya punya delapan kura-kura indukan jadi sekarang bisnisnya ke jual beli tapi untuk farm. Jadi saya mengembangbiakkan atau penangkaran kura-kura jenis Sulcata,” kata breeder tortoise Tonny Hidayat saat ditemui Radar Jogja di rumahnya, di jalan Arjuna No. 20, Wirobrajan, Kota Jogja, Kamis (11/2).

Tonny berujar, bisnis kura-kura yang dirintis sejak 2018 itu cukup menjanjikan, bahkan di tengah pandemi Covid-19 persentase penjualan justru melambung tinggi. Bisa dibilang demand kura-kura naik dua kali lipat dari sebelum pandemi, ditambah untuk kura-kura impor juga cukup susah didapat. Hanya, untuk omzet dikatakan sangat fluktuatif. “Kami ternak kura-kura begitu dia menetas harus masukin ke inkubasi tiga bulan lalu dibesarkan sedikit kira-kira satu bulan jadi total empat bulan. Prosesnya lama, modal juga tinggi,” ucapnya.

Bermula dari hobi, saat ini Tonny memiliki total sebanyak 100 ekor tortoise yang di kembangbiakkan di taman belakang di rumahnya tersebut. Selain Sulcata, pria 38 tahun itu juga punya empat jenis kura-kura darat lain seperti Hermani dari Eropa. Lalu Indian Star (India), Pardalis (Afrika), dan Aldabra (Pulau Aldabra).

Sebagai binatang peliharaan, Sulcata jadi pilihan pas lantaran memiliki corak tempurung yang indah serta menggemaskan. Untuk pemeliharaan Sulcata juga terbilang low maintenance. Namun, juga harus enclosure artinya tempat hidup binatang harus di setting dengan benar. “Kalau kandang sudah oke tinggal ngasih makan saja setiap hari sudah beres. Lalu karena dia herbivora itu istilahnya nggak bakal gigit dan buat anak-anak aman,” bebernya.

Makanan binatang yang termasuk golongan reptil itu juga mudah didapatkan, selain sawi, daun selada, kembang sepatu, wortel, dan rumput, kura-kura juga doyan buah-buahan.

Lantas, kenapa tortoise yang biasa disebut Sulcy oleh para penghobi kura-kura itu dipatok dengan harga tinggi? Tonny menjelaskan harga yang relatif mahal itu disebabkan oleh faktor usia. Sebab, Sulcata bisa hidup sampai 100 tahun. Bahkan jenis Aldabra bisa lebih dari 100 tahun.

Selain usia, lanjut Tonny, motif dan warna juga sangat berpengaruh. Secara estetika yang lebih menarik pasti harganya lebih mahal. Misalnya jenis Sulcara, simetris kiri dan kanan tempurung benar-benar bulat. “Kiri kanan tempurungnya sama tentunya harganya mahal daripada yang agak meleot ke kiri atau kanan,” papar Tonny. Begitu pula dari segi warna, yang jadi favorit adalah yang cerah sehingga kontras warnanya.

Sulcata dewasa bisa bertelur sekitar 30-90 butir per tahun. Sementara size kecil menghasilkan 15-20 butir telur. Uniknya, kata Tonny, telur kura-kura bisa di setting untuk menentukan jenis kelaminnya. Caranya, jika di inkubasi diatas 31 derajat celcius akan menetas betina, sebaliknya jika kurang dari 31 derajat celcius kura-kura akan jadi jantan. “Pada saat inkubasi diatas 31 derajat celcius kura-kura menetas lebih cepat jadi bisa 90 hari. Kalau lebih low temperature, butuh waktu lebih lama empat bulan tapi jenis kelaminnya bisa 90 persen jantan dan 90 persen betina,” terangnya. (ard/bah)

Jogja Utama