RADAR JOGJA – Di masa pandemi Covid-19 ini, tugas PMI tak hanya melayani donor darah saja. Kini juga melayani donor plasma konvalesen untuk pasien Covid-19. Apalagi di Kota Jogja kebutuhannya sangat tinggi. Padahal sulit mendapatkan pendonor plasma yang lolos screening.

Wakil Ketua Bidang Bencana dan Humas Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jogja Munif Tauchid mengatakan,  setelah melalui berbagai tahapan screening lebih dari 100 pendaftar yang datang. Di antaranya 93 pendonor plasma yang lolos. Kebanyakan pendonor plasma bergolongan darah B, A, dan O. “Kami yang masih sangat minim itu pendonor plasma yang golongan darahnya AB,” katanya usai menghadiri audiensi di Balai Kota Jogja kemarin (10/2).

Munif menjelaskan dari ratusan yang pendaftar donor plasma konvalesen itu lantas dilakukan screening tahap awal dan setelah lolos. Selanjunya dilakukan pengecekan antibodi. Ada beberapa faktor yang membuat gagal menjadi pendonor plasma. Di antaranya posisi imun sedang turun, bisa jadi menjelang pengambilan plasma kurang istarahat cukup. Atau mengalami kekurangan kadar hemoglobin (HB). “Bisa jadi juga memang pada waktu cek swab antigen menuju positif,” ujarnya.

Padahal permintaan penyaluram plasma konvalesen ini setiap harinya sangat tinggi dan selalu ada. Jika dihitung dari rata-rata yang menghubungi PMI Kota Jogja berjumlah 25 panggilan setiap harinya yang masuk. Belum lagi, permintaan dari luar DIJ yaitu NTB, Jatim, Jateng, dan lain-lain. “Untuk kota saja kita belum bisa mencukupi. Karena pengambilan plasma butuh waktu 1-1,5 jam. Sehari paling tidak lima pendonor untuk pengambilannya. Itu kalau dengan catatan berhasil,” jelasnya.

Sesuai prosedur, pendonoran plasma yang berhak mentransfusi adalah rumah sakit. Maka permintaannya harus melalui rumah sakit. Alurnya, rumah sakit membuat surat permintaan plasma konvalesen kepada PMI kota. Kemudian PMI kota akan merespon surat tersebut. “Jadi kalau ada yang datang sendiri minta plasma pasti akan kita tolak. Karena dia harus ditransfusi dari rumah sakit,” terangnya.

Satu kantong plasma memiliki masa kadaluarsa tiga bulan. Meskipun khusus, tidak boleh lama tersimpan khusus plasma konvalesen ini dan harus terdistribusikan langsung. Ini berbeda dengan kantong darah biasa pada umumnya. “Pada dasarnya di PMI kota semua darah tidal ada yang sia-sia karena pasti habis. Tidak pernah ada darah expired,” tambahnya. (wia)

Jogja Utama