RADAR JOGJA – Korban cat calling atau godaan verbal petugas Jogoboro, Ralla Lembayung menyayangkan belum adanya permintaan secara langsung kepadanya. Dia pun berharap ada pelatihan untuk berlaku sopan santun ke wisatawan.

“Yang saya sayangkan kenapa tidak ada permintaan maaf langsung ke saya, seakan kasusnya diselesaikan secara sepihak saja,” ujarnya kepada Radar Jogja Senin (8/2). Ralla menyebut, alasannya mem-posting pengalamannya tersebut ke media sosial supaya bisa menjadi pembelajaran pelaku wisata di Malioboro.

Terbukti dari reply postingan-nya di Twitter, banyak pengunjung yang mengalami hal serupa. Hanya tidak ada yang berani mengutarakannya. “Belajar dari kasus saya banyak yang belum berani speak-up,” ujarnya.

Warga Jogja asli itu pun berharap Pemkot Jogja memberikan pelatihan kepada pelaku wisata di Malioboro, maupun lokasi wisata lainnya, tentang etika. Tak hanya kepada petugas Jogoboro. “Kalau bisa termasuk para pedagang dan tukang becak,” harapnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, salah satu bagian dari etika orang bekerja salah satunya dilarang berkomentar terhadap berbagai hal kepada masyarakat yang sedang dilayani. Terutama yang sudah menyangkut dengan pakaian yang dikenakan. Pembinaan pada Jogoboro, maupun petugas di frontline pariwisata lainnya, pun akan dilakukan. “Itu tidak boleh berkomentar seharusnya, ini menjadi pelajaran nanti. Dan bagian dari kita untuk memberikan tata krama, sopan santun,” katanya di Balai Kota Jogja Senin(8/2).

Pun mantan wartawan mengapresiasi langkah UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya, yang kini mengurusi kawasan Malioboro, dengan langsung memberikan tindakan tegas berupa sanksi push up terhadap Jogoboro yang melanggar. “Jadi siapapun harus berbuat baik kepada tamu untuk tidak melakukan sesuatu yang dianggap melecehkan atau merendahkan,” imbuhnya.

Sedang Ketua Komisi B DPRD Kota Jogja Susanto Dwi Antoro mengkhawatirkan adanya peristiwa tersebut bisa berdampak signifikan terhadap perkembangan dan pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) sebagai OPD pengampu UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya bersama Dinas Pariwisata mewakili stakeholder penting melakukan respon. “Sebab setiap masalah di Malioboro berdampak pada citra pariwisata Jogja,” jelasnya.

Politikus PDIP itu juga menyoroti gaya komunikasi Jogoboro. Semua petugas memang perlu memahami bagaimana pelayanan kepada wisatawan. Harus sesuai SOP dalam pelayanan kepada pengunjung. Ini harus mengedepankan keramahan, kenyamaman dan etika. “Mari semua duduk bersama sikapi persoalan dengan berimbang. Agar tidak merugikan dan menjatuhkan citra Malioboro,” tambahnya.

Sebelumnya, petugas Jogoboro dilaporkan melakukan cat calling atau godaan verbal ke pengunjung wanita di Malioboro. Perilaku Jogoboro tersebut diketahui dari cuitan akun Twitter @RallaLembayung. Pemilik akun tersebut merasa ngeri pada saat itu dengan petugas Jogoboro. Karena, ada oknum yang menggoda salah satunya dengan pakaian yang dikenakan. (wia/pra)

Jogja Utama