RADAR JOGJA – Yogyakarta Internasional Airport (YIA) meningkatkan kewaspadaan seiring erupsi Gunung Merapi. Ada kemungkinan penerbangan ditutup apabila abu vulkanis menuju ke arah barat daya.

General Manager YIA Taochid Purnama Hadi mengungkapkan, untuk saat ini aktivitas penerbangan di YIA memang masih normal. Hal itu karena pada erupsi Gunung Merapi yang terjadi Rabu (27/1), angin menuju arah barat laut, sehingga tidak terlalu berdampak pada aktivitas penerbangan di YIA.

Meskipun demikian, Taochid menyatakan pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan seiring meningkatnya aktivitas gunung api yang berada di perbatasan DIJ-Jateng ini. Di antaranya dengan melakukan monitoring dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.

“Kami tetap monitor apabila ada perubahan angin, apabila abu Merapi mengarah ke YIA, kami melakukan paper test. Jika nihil, maka operasional bandara akan tetap berjalan normal. Saat ini kami juga terus monitor dengan AirNav dan BMKG,” ujar Taochid kemarin (28/1).

Dari catatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta pukul 00.00 hingga 14.00 siang, terjadi 36 kali guguran awan panas. Guguran mengarah ke arah barat daya atau ke hulu Kali Krasak dan Kali Boyong.

Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaida menyatakan, awan panas yang dikeluarkan selama 14 jam kemarin mencapai 500 hingga 3.000 meter.  Dengan jarak luncur awan panas masih dalam radius bahaya yang direkomendasikan sejauh lima kilometer.

Ia melanjutkan, getaran yang dihasilkan menurut catatan seismogram mencapai 15 sampai 60 mm. Durasi dari luncuran awan panas itu cukup lama. Mulai dari 83 hingga 197 detik. Hanik menambahkan, mulai 4 Januari lalu Merapi sudah memasuki fase erupsi efusif. Ditandai pertumbuhan kubah lava dan guguran awan panas.

“Tapi erupsi eksplosif masih berpeluang terjadi dengan lontaran material vuklanik diperkirakan mencapai tiga kilometer dari puncak,” ungkapnya. Ia juga menjelaskan, pasca-guguran awan panas itu pihaknya juga menerima cukup banyak laporan mengenai adanya hujan abu dengan intensitas ringan.

Terutama di beberapa desa dan wilayah di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Namun untuk di wilayah DIJ sampai saat ini belum ada hujan abu yang dirasakan. Dijelaskan Hanik, hujan abu terjadi karena luncuran awan panas Gunung Merapi. (inu/laz)

Jogja Utama