RADAR JOGJA – Bagi sebagian masyarakat Indonesia, menyirih sudah menjadi gaya hidup dan tradisi yang mendarah daging. Komposisi utama untuk susuran adalah pinang, sirih, dan kapur. Ketiga bahan ini yang menghasilkan warna merah. Kalau susuran dilakukan dalam kurun waktu lama, warna merah ini akan menempel pada gigi sehingga menjadikan gigi berwarna merah kecoklatan atau keunguan.

“Sehingga senyuman yang dihiasi gigi berwarna merah atau kecoklatan karena menyirih merupakan pemandangan yang biasa,” sebut Ketua Prodi Farmasi FKIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Apt Sabtanti Harimurti Ph.D. dihubungi Radar Jogja (21/1).

Tradisi yang berkembang di banyak daerah ini, lantas memantik para ahli untuk melakukan kajian lebih jauh tentang susuran bagi kesehatan. Sabtanti menyebut, susuran dipercaya bisa untuk memelihara kesehatan gigi dan sistem pencernaan. “Karena dengan mengunyah bahan-bahan susuran bisa memacu terbentuknya air liur,” ungkapnya.

Nah, air liur itu banyak mengandung enzim dan mineral yang bisa membantu pencernakan makanan. Selain itu, air liur dapat menjaga kekuatan gigi serta mencegah penyakit gusi. Hal ini dikarenakan air liur senantiasa membersihkan gigi dan gusi dari sisa-sisa makanan atau kotoran yang menempel.

“Apalagi dibantu dengan susuran tembakau, itu membantu untuk mengeluarkan sisa makanan yang terselip di antara gigi. Selain itu, bahan utama susuran seperti sirih mengandung zat anti bakteri yang bisa mengurangi jumlah bakteri di mulut. Tentu sangat baik untuk menjaga kesehatan mulut dan mencegah gigi berlubang,” papar ibu dua anak ini.

Lalu, apakah susuran dapat menimbulkan kecanduan seperti halnya rokok? Sabtanti menyebut, jika komponen utama untuk susuran adalah pinang, sirih dan kapur. Bahan lainnya seperti gambir dan cengkeh untuk menambah aroma dan rasa sekaligus menghilangkan rasa pahit dan sepat.

Sedangkan tembakau lebih bersifat sebagai alat membersihkan. Kendati dapat membantu membersihkan sisa-sisa kotoran yang menyelip pada gigi, sebenarnya tembakau juga memiliki zat aktif yang bisa mempengaruhi tubuh.
“Tembakau mengandung nikotin, begitu juga pada pinang yang mengandung zat mirip nikotin. Nikotin dan senyawa turunannya diketahui sebagai zat psikoaktif yang bisa menstimulasi tubuh untuk memproduksi adrenalin, sehingga badan serasa bugar, lebih bersikap waspada dan merasa berenergi. Dengan demikian susuran terkadang bisa menyebabkan ketagihan seperti merokok,” jelas perempuan yang hobi memasak ini.

Selain itu, campuran bahan yang digunakan untuk susuran sangat iritatif, sehingga bisa menyebabkan iritasi sampai terluka. Menurut laporan Nik Zatil pada 2009, susuran yang berlebihan dapat menyebabkan kanker rongga mulut. Ini terjadi pada orang yang melakukan susuran lebih dari 35 tahun dan melakukannya lebih dari 10 kali per sehari.

Ditambah dengan tidak diperhatikannya status kebersihan mulut dan gigi. “Kanker rongga mulut ini dikarenakan sifat karsinogenik dari zat-zat yang dihasilkan dari komponen susuran,” katanya. (fat/laz)

Jogja Utama