RADAR JOGJA – Nusantara memiliki banyak kebiasaan yang berkaitan dengan tembakau. Selain rokok, cerutu, ada pula tradisi susuran di kalangan lansia perempuan. Kebiasan ini ada yang menyebut dengan nginang.

Susuran berasal dari kebiasaan yang sudah ada sebelumnya di Bumi Nusantara. Yakni kebiasaan nyirih. Namun masuknya tembakau yang dibawa bangsa Portugis ke Nusantara beberapa abad lalu, turut mempengaruhi kebiasaan nyirih ini. Usai nginang, biasanya dilanjut dengan susuran.

Kebiasaan susuran atau nginang sendiri sempat populer di kalangan masyarakat, terutama masyarakat Jawa. Namun belakangan kebiasaan susuran ini mulai ditinggalkan. Kasmirah salah satunya. Perempuan berusia 70 tahunan ini mengaku dulu sempat lama memiliki kebiasaan susuran.

Namun, kebiasaan itu ia tinggalkan sejak beberapa tahun terakhir. Menurutnya, belakangan ia tidak mendapatkan kenikmatan lagi. “Diprotes karo anak putu (Diprotes sama anak cucu, Red),” kata Kasmirah saat ditemui Radar Jogja, sembari tertawa.

Selain itu, Kasmirah juga merasa tidak enak hati dengan orang lain. Pasalnya, salah satu hal yang agak menjijikan atau tidak higienis dari kebiasaan orang susuran adalah meludah. Apalagi ludah yang dihasilkan berwarna merah dan agak susah hilang, meskipun ludah itu ada di tanah, apalagi di lantai.

Menurut Kasmirah, ia kala itu mulai memiliki kebiasan susuran sejak masih muda. Dulu ia mendapatkan informasi kalau susuran itu bisa menyehatkan gigi dan mulut. “Pokoknya dulu gitu, saya coba-coba terus dan keterusan sampai tua,” kisah pedagang di Pasar Beringharjo ini.

Susuran atau nginang sendiri merupakan kegiatan mengunyah yang terdiri atas pinang, sirih, gambir, tembakau, kapur atau yang orang Jawa menyebutnya dengan injet, dan cengkeh. Susuran itu juga bisa diibaratkan seperti kegiatan memakan permen karet atau kudapan. (kur/laz)

Jogja Utama